
AUDUSD berpotensi melemah lebih lanjut pada sesi Asia setelah rilis data China memperlihatkan momentum pertumbuhan yang lemah. Retail Sales China untuk April naik 0,2% secara tahunan, di bawah ekspektasi 2,0% dan juga di bawah angka bulan sebelumnya. Kondisi ini menambah tekanan pada outlook komoditas dan daya tarik mata uang risiko. Sementara itu, fokus investor juga tertuju pada pernyataan pejabat Federal Reserve yang menegaskan komitmen mereka mengendalikan inflasi.
Dolar AS mendapatkan dukungan sebagai aset aman karena ketidakpastian geopolitik dan kekuatan data inflasi. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Desember meningkat, berdasarkan kontrak CME FedWatch; peluangnya mendekati 48% dari sebelumnya 14%. Kondisi ini mendorong dolar naik terhadap sejumlah pasangan mata uang termasuk AUDUSD.
Namun AUD tetap rentan karena arus masuk safe-haven ke USD didorong oleh kekhawatiran geopolitik seperti konflik antara AS dan Iran. Ketegangan di wilayah tersebut membuat risiko global meningkat, yang pada gilirannya menekan aset berisiko. Cetro Trading Insight menilai volatilitas jangka pendek masih tinggi pada pasangan mata uang utama di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.
Data China untuk April menunjukkan Retail Sales YoY 0,2% tumbuh, jauh di bawah ekspektasi 2,0% dan rekor 1,7% di bulan sebelumnya. Produksi Industri juga melambat menjadi 4,1% YoY dibandingkan 5,9% yang diperkirakan. Investasi Aset Tetap turun -1,6% secara YTD, sementara ekspektasi tumbuh 1,6%.
Lemahnya angka-angka konsumsi dan produksi di China memperumit prospek permintaan komoditas dan pertumbuhan global, yang biasanya mendukung AUD. Pergerakan harga komoditas terpengaruh, dan aliran modal menuju aset berisiko menjadi terbatas. Kondisi ini menambah tekanan bagi AUDUSD jika dinamika global tetap melankolis.
Dengan China menunjukkan pelemahan, AUDUSD diperkirakan tetap berada di bawah tekanan jika data makro lain juga mengecewakan. Namun pergerakan jangka pendek tetap dipukul oleh sentimen dolar AS dan kebijakan Fed. Investor disarankan memantau kata-kata pejabat bank sentral dan data manufaktur global untuk sinyal arah selanjutnya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Ketidakpastian tersebut mengangkat volatilitas di pasar mata uang secara global. Pasar juga menyimak perkembangan terkait perundingan dan kebijakan yang dapat mempengaruhi aliran perdagangan global.
Penutupan atau gangguan sementara pada Selat Hormuz menyebabkan harga minyak global meningkat, menambah beban biaya energi bagi negara pengimpor. Gejolak energi memperkuat dukungan terhadap USD, sehingga mata uang berisiko seperti AUD terseret ke bawah. Dalam konteks ini volatilitas tetap menjadi ciri utama pasar FX.
Analisis Cetro Trading Insight menyoroti bahwa meskipun ada tekanan, risiko geopolitik memberi peluang bagi trader yang berhati-hati untuk menutupi posisi dengan rencana manajemen risiko yang jelas. Skenario utama tetap volatil dengan fokus pada inflasi, kebijakan bank sentral, dan dinamika geopolitik yang sedang berlangsung.