BAIK Perkuat Pasokan dan Hilirisasi Telur melalui Kemitraan Strategis dengan Produsen Semarang

BAIK Perkuat Pasokan dan Hilirisasi Telur melalui Kemitraan Strategis dengan Produsen Semarang

trading sekarang

PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK) menegaskan komitmennya untuk memaksimalkan pengembangan bisnis melalui kemitraan strategis dengan produsen telur terkemuka di Semarang. Langkah ini tidak hanya memperkuat pasokan bahan baku, tetapi juga mempercepat hilirisasi sektor pangan berbasis protein yang krusial bagi ekosistem HORECA. Dengan kemitraan ini, BAIK menegaskan fokusnya pada stabilitas rantai pasok dan tata kelola logistik yang efisien.

Nanang Suherman, Direktur Utama BAIK, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk mengejar hilirisasi telur sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan bagi jaringan hotel, restoran, dan kafe (HORECA). Ia menekankan bahwa integrasi hulu-hilir diperlukan untuk mengurangi volatilitas harga dan memastikan pembelian terukur bagi mitra UMKM serta jaringan ritel perseroan. Jawa Tengah disebut sebagai lumbung telur nasional kedua dengan kapasitas produksi sekitar 1,2–1,5 juta ton per tahun, sebuah potensi yang bisa dimanfaatkan secara optimal melalui kerja sama ini.

Pemilik peternakan lokal, Heru Santoso, menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai langkah ini akan memberi kepastian pembeli bagi peternaknya dan membantu menstabilkan harga telur di pasar domestik. Menurut Nanang, kemitraan ini juga diharapkan mempercepat transformasi dari telur mentah menuju produk bernilai tambah, seperti telur cair dan telur bubuk, yang memperluas peluang distribusi ke berbagai segmen pasar.

Langkah hilirisasi memungkinkan BAIK menjaga pasokan telur segar sekaligus mengakselerasi pengolahan menjadi produk turunan bernilai tambah, seperti liquid egg (telur cair) dan powder egg (telur bubuk). Perluasan kapasitas ini dipandang sebagai kunci untuk memperpanjang umur simpan produk dan mempermudah distribusi ke pasar yang lebih luas.

Produk hilirisasi akan disalurkan secara internal dan eksternal—mulai dari memenuhi bahan baku brand kuliner berbasis telur seperti Dadar Beredar, hingga memenuhi kebutuhan lebih dari 1.000 mitra binaan UMKM. Rantai pasok yang efisien juga mendukung rencana jaringan tenant di halte TransJakarta dan penawaran produk snack di platform e-commerce.

Nanang menegaskan bahwa strategi hilirisasi sejalan dengan program pemerintah untuk meningkatkan skala ekonomi komoditas lokal. Dia menambahkan bahwa digitalisasi rantai pasok dari peternakan hingga konsumen memungkinkan efisiensi operasional dan dampak ekonomi yang lebih luas.

Secara operasional, integrasi ini berpotensi mendorong pertumbuhan kinerja perusahaan. Dengan kepastian pasokan, biaya logistik bisa ditekan dan kapasitas untuk memenuhi permintaan pasar domestik meningkat. Nilai tambah produk diproyeksikan meningkat tiga hingga lima kali lipat dibanding menjual telur mentah, berkat umur simpan yang lebih panjang dan distribusi logistik yang lebih praktis.

Efek domino terhadap UMKM, peternak lokal, dan tenaga kerja di sektor terkait diharapkan tumbuh signifikan. Langkah ini juga diharapkan memberikan dampak positif bagi stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional. Sebagai penutup, kebijakan ini sejalan dengan fokus pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Dikutip dari perspektif Cetro Trading Insight, inisiatif ini menandai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pangan nasional.

banner footer