
Bank Ina Perdana Tbk (BINA) menorehkan lonjakan kinerja yang mengejutkan di tengah badai volatilitas global, menandai awal yang menjanjikan bagi bank mid-cap di Indonesia. Laba bersih Bank INA mencapai Rp52,98 miliar, tumbuh 268% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini menjadi indikator bahwa bank mampu mengelola tantangan pasar sambil memanfaatkan momentum pemulihan pendanaan dan penyaluran kredit.
Hingga akhir Maret 2026, total aset Bank INA tercatat sebesar Rp31 triliun, naik 27% secara tahunan. Kenaikan aset didorong oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi Rp25 triliun, tumbuh 22% yoy. Pertumbuhan DPK ini memperkuat likuiditas bank dan kapasitas pembiayaan di masa depan.
Rasio CASA Bank INA naik menjadi 40,07% dari 37,48% pada periode sebelumnya, mencerminkan struktur pendanaan yang lebih stabil dan biaya dana yang lebih rendah. Penyaluran kredit Bank INA juga menunjukkan kinerja positif dengan realisasi Rp14,78 triliun, didorong oleh Kredit Konsumsi (Rp1,59 triliun), Kredit Investasi ( Rp4,40 triliun), dan Kredit Modal Kerja ( Rp8,79 triliun). Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) perseroan berada pada 59,03%, menunjukkan likuiditas yang tetap sehat seiring ekspansi kredit.
Dari sisi likuiditas, Bank INA menunjukkan kedudukan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan, berpegang pada kerangka pendanaan yang lebih berimbang. CASA yang membaik meningkatkan akses terhadap dana murah, sedangkan DPK tetap terjaga di level yang mendukung likuiditas jangka pendek. Peningkatan ini mencerminkan kepercayaan nasabah serta efisiensi operasional dalam mengelola dana.
LDR berada pada level yang sehat sekitar 59,03%, menandakan buku kredit Bank INA tumbuh sejalan dengan kemampuan bank dalam menjaga likuiditas. Bank juga terus mengembangkan ekosistem digital binadigital sejak 2023 melalui API banking, aplikasi mobile, hingga ekspansi acceptance dan internet business. Nilai transaksi digital meningkat pesat, dari Rp22 triliun pada 2024 menjadi Rp73 triliun pada akhir 2025, menunjukkan keberhasilan transformasi digital.
Direktur Keuangan Kiung Hui Ngo menegaskan bahwa pertumbuhan likuiditas dan struktur pendanaan akan menjadi pilar utama dalam menjaga kinerja Bank INA. Peningkatan CASA dan DPK menjadi fondasi untuk menjaga biaya dana yang lebih kompetitif meskipun volatilitas pasar. Lompatan ini juga menegaskan komitmen bank untuk terus memperkuat ekosistem binadigital demi layanan yang lebih efisien bagi nasabah.
Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi menyatakan optimisme terhadap prospek bisnis di 2026, meski kehati-hatian tetap dijaga. Pada kuartal pertama 2026, inisiatif-inisiatif bank menunjukkan pertumbuhan positif yang diharapkan berlanjut sepanjang tahun. Bank akan terus memanfaatkan momentum digital dan peningkatan penyaluran kredit untuk mencapai pertumbuhan yang stabil.
Para eksekutif menekankan bahwa kestabilan dan kehati-hatian menjadi kombinasi utama dalam mendorong kinerja yang berkelanjutan. Bank INA menegaskan bahwa prospek 2026 akan didorong oleh peningkatan DPK, CASA yang terus naik, dan ekspansi produk digital. Meskipun fokus tetap pada pertumbuhan, bank menegaskan strategi manajemen risiko untuk menjaga kualitas aset.
Dalam sorotan media, rencana ekspansi binadigital dan ekosistem digital diharapkan meningkatkan efisiensi operasional serta kepuasan nasabah. Analisis pasar oleh Cetro Trading Insight menilai bahwa kombinasi antara penguatan funding dan digitalisasi memberikan sinyal positif bagi pergerakan saham BINA pada tahun ini. Artikel ini disusun untuk pembaca Cetro, sumber berita ekonomi yang mengutamakan kejelasan dan ketelitian.