
Harga emas berupaya bertahan meski sempat menyentuh level tertinggi tiga minggu sebelum mengalami koreksi. Pergerakan ini dipicu oleh ketegangan di Iran dan kebijakan The Fed yang dianggap hawkish, sehingga mendukung dolar AS. Investor menimbang arah selanjutnya menunggu rilis data inflasi AS.
Ruang pergerak harga juga terdampak oleh headline negatif terkait krisis di Timur Tengah, yang mengurangi harapan adanya kesepakatan damai AS-Iran dan memperkuat status dolar sebagai mata uang cadangan. Lonjakan biaya energi akibat konflik tersebut turut menjaga tingkat inflasi tetap tinggi dan menambah tekanan pada logam mulia.
Para pelaku pasar kini fokus pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya. Beberapa analis melihat peluang Fed menaikkan suku bunga pada akhir tahun meskipun ada ketidakpastian, sehingga sentimen dolar tetap jadi faktor kunci.
Dari sisi teknis, pasangan XAU/USD menunjukkan dinamika yang cukup resilient meski sempat berada di bawah rata-rata pergerakan 100 periode pada kerangka waktu 4 jam. Rebound dari level retracement 38.2% dari penurunan April-Mei dan breakout melalui level retracement 61.8% mendukung sentimen bullish jangka pendek.
Indikator momentum menunjukkan peluang kenaikan yang solid namun belum mengindikasikan tren yang kuat. RSI berada di sekitar 58 menandakan momentum bullish sedang, sementara histogram MACD berada mendekati posisi nol sehingga arah tren masih rentan berubah.
Untuk level kunci, resistance terdekat berada di sekitar 4,742 dolar, dengan hambatan berikutnya di sekitar 4,807 dolar dan 4,890 dolar. Sisi support terlihat sekitar 4,696 dolar, diikuti 4,671 dolar dan 4,651 dolar; jika ada koreksi lebih lanjut, level 4,594 dan 4,503 menjadi lantai struktural yang perlu diamati.
Di sisi fundamental, pasar mencerna ketegangan geopolitik terkait Iran dengan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dan lonjakan harga energi akibat konflik tersebut. Kombinasi ini berpotensi membentuk pergerakan inflasi dan memengaruhi kebijakan moneter kedepannya. Investor juga menimbang bagaimana CPI AS akan memandu arah dolar dan logam mulia dalam beberapa sesi mendatang.
Menurut penilaian pasar, peluang Fed menaikkan suku bunga pada akhir tahun sekitar 25%, tergantung bagaimana inflasi berkembang pasca lonjakan harga energi. Dolar AS cenderung mendapat dukungan dari ekspektasi tersebut meskipun dinamika geopolitik bisa menambah volatilitas jangka pendek.
Nah, meskipun faktor fundamental memberi arah, sinyal teknis pada XAU/USD menunjukkan potensi kenaikan jika harga menembus level resistensi utama. Investor disarankan memantau rilis CPI dan pergerakan dolar AS untuk menentukan langkah selanjutnya dalam beberapa sesi ke depan.