Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, Bank Sentral Mesir (CBE) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga kebijakan di 19% untuk sisa FY26 (berakhir Juni). Proyeksi tersebut mengindikasikan penundaan langkah pelonggaran yang sebelumnya diantisipasi. Perkiraan akhir FY26 menunjukkan tingkat kebijakan sekitar 13%, dengan pelonggaran diperkirakan baru terjadi pada paruh kedua tahun kalender jika kondisi membaik.
Kondisi finansial membaik dipantau dari beberapa faktor, seperti inflasi yang masih tinggi, kenaikan harga BBM, dan arus portofolio keluar. Namun dukungan datang dari likuiditas FX yang lebih kuat dan cadangan devisa bersih yang membaik, yang membantu menstabilkan pasar mata uang.
Kondisi ini menegaskan pandangan bahwa siklus pelonggaran akan berlanjut pada 2026 jika stabilitas tercapai. Pasar juga mencatat tekanan pada EGP, dengan USD/EGP mendekati level terendah resmi sekitar 53, menjadi sinyal kehati-hatian kebijakan. Secara keseluruhan, kebijakan ini dipandang sebagai langkah menjaga stabilitas finansial sambil memberi ruang bagi pelonggaran di waktu yang tepat.
Dukungan likuiditas FX yang lebih kuat diharapkan membantu meredam tekanan pada pasar valuta asing dan menahan arus keluar portofolio. Hal ini konsisten dengan narasi bahwa pelonggaran akan terjadi secara bertahap setelah kondisi stabil, meskipun level akhir 2026 tetap di kisaran 13%.
Meskipun pelonggaran lebih lanjut diperkirakan muncul di paruh kedua 2026, biaya transportasi dan produksi bisa tetap tinggi karena kebijakan saat ini. Hal ini menambah risiko kejutan inflasi ke depan jika pertumbuhan tidak menahan tekanan, sehingga pergerakan mata uang sangat responsif terhadap dinamika harga komoditas dan energi.
Bagi pelaku pasar, fokus utama adalah likuiditas FX, posisi cadangan devisa, serta faktor eksternal seperti pergeseran suku bunga global. Jalur kebijakan Mesir diperkirakan mengarah pada pelonggaran bertahap ketika kondisi stabil, meskipun sinyalnya tetap kurang jelas untuk tindakan trading sekarang.