BBH memproyeksikan dolar AS akan bergerak defensif minggu ini, didorong oleh ketidakpastian di pasar tenaga kerja AS dan pelonggaran tekanan inflasi. Ketika pasar kerja menunjukkan kelemahan, ekspektasi terhadap pemangkasan kebijakan Fed meningkat, mencerminkan kontraksi dalam laju kenaikan imbal hasil. Ini menekan dolar karena investasi beralih ke aset berisiko dan mata uang lain yang lebih menarik bagi investor.
Analisis BBH menyoroti pertemuan NFP Januari dan CPI sebagai uji utama klaim Ketua Powell bahwa polarisasi antara pekerjaan dan inflasi telah berkurang. Perhatian utama adalah perubahan upah serta inflasi jasa inti super yang menjadi pemantauan kunci. Data ini bisa mengubah jalur kebijakan jika tekanan tetap rendah atau jika tekanan inflasi menguat secara tidak terduga.
Pasar menilai bahwa perbaikan gambar inflasi dan produktivitas non-pertanian sekitar 2% mendukung kemungkinan pelonggaran kebijakan oleh The Fed saat ini. Sinyal pasar berputar menuju harga instrumen yang lebih cocok untuk menilai risiko ekonomi. Secara keseluruhan, dinamika data ini akan menjadi fokus investor sejak pembukaan perdagangan minggu ini.
Indikasi CPI Januari akan dirilis pada hari Jumat, dengan Headline CPI diperkirakan naik 0,3% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan, level terendah sejak Mei 2025 jika dibandingkan Desember. Laju inflasi inti juga dipantau ketat untuk melihat apakah tekanan harga melemah secara berkelanjutan. Pasar menilai faktor-faktor ini bisa mempengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Risiko ke atas harga tampaknya mereda, memberi ruang bagi The Fed untuk menilai pelonggaran kebijakannya. Namun, dinamika upah turut menjadi fokus utama, karena laju kenaikan upah rata-rata sekitar 3,7% y/y pada Januari dibandingkan 3,8% pada Desember. Data Indeks Biaya Pekerjaan (ECI) yang menjadi data upah kesayangan Fed menunjukkan tekanan biaya tenaga kerja tetap moderat, sekitar 3,5% y/y di kuartal ketiga.
Secara keseluruhan, banyak indikator menunjukkan bahwa kenaikan upah tetap pada tingkat yang berkelanjutan sejalan dengan target inflasi 2% Fed. Produktivitas non-pertanian sekitar 2% turut menambah keyakinan bahwa tekanan inflasi bisa mereda tanpa menekan kesejahteraan pekerja secara berlebihan. Dengan begitu, fokus pasar tetap pada rilis Januari untuk menentukan arah suku bunga dan pergerakan dolar ke depan.
Implikasi utama bagi pasar adalah ekspektasi pelonggaran kebijakan memungkinkan penyesuaian posisi investor menuju risiko yang lebih tinggi. Dolar diperkirakan akan terkoreksi jika data mengindikasikan pelonggaran inflasi berlanjut dan pertumbuhan tenaga kerja tidak terlalu agresif. Para pelaku pasar juga memantau bagaimana ekspektasi pemotongan 50 basis poin pada akhir tahun mempengaruhi imbal hasil dan pergerakan mata uang.
Untuk investor saham dan obligasi, perubahan pola kebijakan bisa mengubah skema risiko dan likuiditas di pasar. Ketidakpastian seputar jalur The Fed menambah volatilitas jangka pendek tetapi juga menciptakan peluang bagi strategi diversifikasi. Secara umum, profil risiko pasar cenderung lebih tinggi pada faktor-faktor inflasi dan tenaga kerja yang tetap relevan.
Karena informasi dari artikel ini tidak memberikan sinyal instrumen spesifik yang bisa dieksekusi, rekomendasi perdagangan langsung tidak dapat dipasang. Oleh karena itu, sinyal perdagangan diset sebagai no dengan level yang tidak berlaku. Penilaian ini mencerminkan kebutuhan data harga terkini untuk menentukan entry, stop loss, dan target profit yang tepat.