
Cetro Trading Insight melaporkan bahwa BEI berkomitmen melanjutkan reformasi pasar modal yang telah berjalan dalam beberapa bulan terakhir. Langkah ini bertujuan menambah kejelasan, integritas, dan tata kelola yang lebih kokoh di lingkungan Bursa Efek Indonesia. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan tekadnya untuk mendorong reformasi yang menyasar transparansi dan akuntabilitas. Dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, ia menegaskan bahwa reformasi akan mendalami pasar dari sisi permintaan maupun penawaran, sehingga likuiditas dapat tumbuh secara berkelanjutan. Cetro menilai langkah ini krusial bagi peningkatan kepercayaan pelaku pasar dan memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
Jeffrey menegaskan bahwa fokus reformasi adalah melanjutkan program yang telah dimulai empat bulan terakhir dengan prioritas peningkatan transparansi, integritas, dan tata kelola BEI. Ia menekankan bahwa pendalaman pasar bukan sekadar regulasi semata, melainkan upaya memperkuat ekosistem permintaan dan penawaran agar peserta pasar lebih responsif terhadap peluang investasi. Langkah-langkah tersebut diproyeksikan untuk memperkuat posisi BEI sebagai bursa kelas dunia yang sejalan dengan standar bursa terkemuka di luar negeri. Upaya ini juga diproses untuk meningkatkan partisipasi investor ritel maupun institusional, sambil memperkokoh fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Cetro menilai implementasinya akan menarik minat investasi yang lebih luas ke BEI.
Reformasi ini juga menandai komitmen BEI terhadap pendalaman pasar secara menyeluruh. Selain memperbaiki sisi permintaan dan penawaran, langkah-langkah transparansi dan tata kelola diharapkan memperluas akses informasi bagi emiten dan investor. Beberapa analis menilai bahwa reformasi jangka panjang bisa menjaga stabilitas pasar meskipun dinamika global berfluktuasi. Secara langsung, efeknya bisa mencakup peningkatan likuiditas, efisiensi harga, dan keandalan infrastruktur perdagangan BEI. Cetro menilai konsistensi penerapan reformasi integritas menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan pasar modal Indonesia.
OJK resmi merilis susunan direksi BEI periode 2026-2030 setelah melalui proses fit and proper test yang diikuti 28 kandidat. Sebanyak tujuh direktur terpilih akan memimpin BEI dalam empat tahun ke depan, dengan alokasi tugas pada berbagai bidang krusial seperti pengawasan transaksi, penilaian perusahaan, teknologi informasi, keuangan, sumber daya manusia, dan kepatuhan operasional. Langkah ini menandai komitmen kuat regulator untuk menjaga kelangsungan reformasi dan tata kelola yang lebih baik di pasar modal nasional.
Penetapan jajaran direksi baru ini menegaskan komitmen regulator untuk menjaga tata kelola, integritas, dan reformasi yang berkelanjutan di pasar modal Indonesia. Beberapa langkah perubahan struktur ini dirancang untuk mempercepat implementasi kebijakan dan meningkatkan sinergi antara BEI, OJK, dan pelaku pasar.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi atau Kiki, menyatakan bahwa semua kandidat adalah yang terbaik untuk peran masing-masing. Jeffrey Hendrik ditetapkan sebagai Direktur Utama BEI, Saidu Solihin menjabat Direktur Penilaian Perusahaan, Abdul Munim sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko, Umi Kulsum sebagai Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum, Iding Pardi sebagai Direktur Pengembangan, Yulianto Aji Sadono sebagai Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan, serta Irvan Susandy sebagai Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa. Ia menekankan komitmen untuk menjaga integritas dan tata kelola sebagai pilar reformasi. Kiki juga menegaskan bahwa reformasi ini akan menjadi fondasi BEI untuk berkontribusi pada kemajuan pasar modal Indonesia.
Penempatan jabatan baru ini diharapkan mempercepat pendalaman pasar dari sisi operasional dan regulasi, sehingga BEI dapat lebih responsif terhadap dinamika emiten, investor, dan pemangku kepentingan. Langkah ini juga menekankan fokus pada tata kelola dan integritas sebagai landasan kebijakan perusahaan. Cetro menilai bahwa arah ini sejalan dengan kebutuhan ekosistem pasar modal yang lebih transparan, adil, dan berdaya saing. Dengan demikian, investor bisa melihat keandalan pasar yang lebih baik.
Selanjutnya, sinergi antara BEI dan OJK diharapkan memperkuat posisi BEI sebagai rumah perdagangan yang nyaman bagi investor, emiten, dan seluruh pemangku kepentingan. Peningkatan tata kelola melalui reformasi integritas diharapkan mengurangi praktik yang tidak etis dan meningkatkan akuntabilitas seluruh pihak terkait. BEI juga didorong untuk memperdalam likuiditas dan efisiensi perdagangan melalui infrastruktur yang lebih modern dan akses informasi yang lebih luas.
Secara jangka panjang, reformasi ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pasar modal yang lebih stabil, transparan, dan andal. Bagi para pelaku pasar, perubahan ini berarti lingkungan perdagangan yang lebih ramah investasi dan transparan. Cetro akan terus memantau implementasi kebijakan BEI, dengan fokus pada dampak nyata terhadap likuiditas, biaya modal, dan kepercayaan investor.