
Dalam beberapa tahun terakhir, BEI menegaskan komitmen untuk meningkatkan transparansi terkait ESG di pasar modal Indonesia. Data terbaru menunjukkan 87 persen emiten telah menyampaikan sustainability report untuk 2025, menandai lonjakan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini dinilai sebagai fondasi penting bagi kepercayaan investor dan kredibilitas informasi perusahaan, khususnya bagi investor global yang semakin mengutamakan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola. Di platform kami, Cetro Trading Insight, kami melihat momentum ini sebagai sinyal positif bagi arus modal dan kualitas pelaporan.
Namun peningkatan kuantitas laporan belum otomatis meningkatkan kualitas. Hanya 13 persen laporan yang telah diverifikasi oleh pihak ketiga, sehingga klaim ESG masih perlu dibuktikan secara independen. Para analis menekankan bahwa verifikasi eksternal memperkuat akurasi data dan meminimalkan potensi bias. BEI telah menyoroti pentingnya transparansi sebagai pondasi pengambilan keputusan investasi.
Investor kini menilai laporan ESG sebagai alat untuk menilai risiko jangka panjang dan potensi pertumbuhan perusahaan. BEI terus mengembangkan infrastruktur pelaporan ESG agar informasi lebih relevan, terukur, dan mudah diakses. Upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional seperti ASEAN ESG Common Core Metrics dan POJK 51 Tahun 2017 melalui SPE-IDXnet. Dengan ini, ESG tidak lagi sekadar formalitas, melainkan strategi bisnis untuk menghadapi dinamika pasar.
Seiring meningkatnya jumlah laporan, kualitas tetap menjadi tantangan utama bagi perusahaan tercatat. Banyak emiten masih kesulitan menyajikan data yang konsisten, terukur, dan mudah dipahami oleh investor awam. BEI telah mendorong transparansi, namun standar pelaporan yang perlu diikuti tetap menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian emiten.
Hingga saat ini, sekitar 58 persen emiten melaporkan emisi gas rumah kaca untuk scope 1 dan 2, sementara 32 persen melaporkan scope 3. Angka ini menunjukkan kemajuan, tetapi juga menunjukkan bahwa sebagian emiten belum memberikan gambaran utuh tentang dampak lingkungan mereka. Verifikasi independen dan audit data ESG menjadi pembahasan utama di konferensi IDX Channel ESG Conference 2026.
Iding Pardi menekankan bahwa penyediaan informasi ESG yang relevan, terukur, transparan, dan mudah diakses adalah kunci bagi investor yang membandingkan perusahaan. BEI terus menyempurnakan panduan pelaporan dan mempermudah perusahaan untuk menyusun laporan ESG melalui pedoman IDX ESG Metrics Guidance. Inisiatif ini juga memusatkan perhatian pada kredibilitas data melalui verifikasi independen, sehingga ekosistem investasi berkelanjutan bisa tumbuh lebih kuat. Para pemangku kepentingan diharapkan melihat kualitas pelaporan sebagai aset strategis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Upaya BEI bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk mengelola risiko dan meraih peluang. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan ESG dalam rencana operasional sering kali lebih tangguh menghadapi volatilitas pasar. Inisiatif seperti SPE-IDXnet dan metrik ASEAN Core telah memperkuat kerangka pelaporan yang konsisten dan mudah dipahami oleh investor.
Investor global kini menjadikan ESG sebagai faktor utama dalam keputusan investasi mereka. Data ESG yang kredibel membantu analisis risiko finansial, reputasi, dan tata kelola perusahaan. BEI berharap pelaporan yang semakin terverifikasi dapat mempercepat aliran modal berorientasi panjang ke pasar modal Indonesia.
Melalui peningkatan kualitas pelaporan keberlanjutan, BEI menargetkan ekosistem investasi yang lebih berkelanjutan dan kredibel. Verifikasi independen diharapkan menjadi pilar utama yang mendorong investasi bertanggung jawab. Dengan dukungan platform riset seperti Cetro Trading Insight, investor dapat mengakses informasi ESG dengan lebih mudah dan membuat keputusan yang lebih terinformasi.