
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa otoritas moneter tidak pasif menghadapi pelemahan Rupiah. Bank Indonesia mengangkat strategi all out dan menilai bahwa kepastian pasar membutuhkan tindakan tegas, bukan sekadar business as usual. Komentar ini disampaikan pada konferensi pers yang membahas dinamika nilai tukar di tengah ketidakpastian global.
BI telah meluncurkan intervensi besar-besaran dengan memanfaatkan cadangan devisa, meskipun posisi cadangan turun menjadi USD148,2 miliar. Intervensi tak hanya bersifat tunai, melainkan juga domestic non-delivery forward (DNDF) untuk stabilkan likuiditas pasar valas. Upaya ini menegaskan bahwa negara perlu langkah yang terkoordinasi, mencakup pasar dalam negeri maupun internasional.
Menurut analisis di Cetro Trading Insight, angka-angka cadangan devisa masih memadai untuk menahan tekanan di pasar valuta asing. Array data menunjukkan bahwa intervensi mengandalkan kombinasi alat konvensional dan instrument non-delivery forward untuk menjaga likuiditas. Dalam konteks ini, para pelaku pasar juga mempertimbangkan prediksi harga emas sebagai referensi safe-haven saat volatilitas meningkat.
Secara fundamental, Rupiah berada pada posisi undervalued jika melihat beberapa indikator domestik utama. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61 persen, inflasi rendah di 2,42 persen, dan surplus neraca perdagangan menjadi faktor pendukung. Selain itu, pertumbuhan kredit tetap tinggi, menambah dukungan terhadap prospek stabilitas mata uang dalam jangka menengah.
Lebih lanjut, pelemahan Rupiah dipicu oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, serta suku bunga AS yang tinggi. Ada juga faktor musiman pada periode April–Mei yang meningkatkan permintaan valas untuk kebutuhan bisnis dan ibadah umroh. Analisis di Cetro Trading Insight menegaskan bahwa pengaruh faktor global ini bersifat sementara namun signifikan bagi volatilitas kurs.
Dalam konteks pasar Indonesia, koordinasi erat antara BI, pemerintah, dan KSSK menjadi kunci menjaga stabilitas. Perry menekankan dukungan penuh presiden dan kerja sama lintas lembaga untuk menjaga aliran modal dan likuiditas pasar. Bagi investor, pembacaan kebijakan ini menyuguhkan Array insight yang bermanfaat untuk menilai risiko dan peluang di mata uang domestik.