Berita ini terdengar seperti gempa kebijakan di tengah gejolak global: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan peluang pemangkasan BI Rate di masa depan semakin menipis meski bank sentral sudah tiga kali memangkas sepanjang 2025. Pasar merespons dengan menjaga napas, karena stabilitas keuangan dan rupiah menjadi prioritas utama dalam konteks ketidakpastian. Pernyataan tersebut menandai pergeseran fokus kebijakan dari pelonggaran agresif menuju penekanan risiko eksternal yang membayangi perekonomian.
BI mempertahankan BI Rate di 4,75 persen, dan Perry menjelaskan ruang untuk penurunan ke depan semakin terbatas. Ia menegaskan bahwa langkah stabilitas akan lebih penting daripada relaksasi kebijakan jika volatilitas pasar internasional tetap tinggi. Kebijakan itu juga sejalan dengan tekanan dari pasar obligasi global yang memicu kenaikan imbal hasil dan potensi alih arus modal.
Perry menyoroti dampak kenaikan imbal hasil US Treasury akibat meningkatnya defisit fiskal dan pembiayaan anggaran militer. Kondisi ini menular ke pasar keuangan global dan berpotensi membatasi kemampuan bank sentral negara berkembang untuk menurunkan suku bunga. Bersamaan dengan itu, harga minyak yang lebih tinggi memperparah tekanan biaya, menambah kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal.
| Indikator | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| BI Rate | 4,75% | Stabilitas menjadi prioritas |
| Proyeksi Global 2026 | 3,1% | Revisi turun |
| Inflasi Global | 4,1% | Tekanan kenaikan |