BMRI Tumbuh Positif di 2025 dengan Prospek Laba 2026 Cerah, Bank Mandiri Dinilai Dukung Pertumbuhan Sektor Perbankan

BMRI Tumbuh Positif di 2025 dengan Prospek Laba 2026 Cerah, Bank Mandiri Dinilai Dukung Pertumbuhan Sektor Perbankan

trading sekarang

Memasuki 2025, Bank Mandiri memicu gelombang optimisme di pasar dengan kinerja yang menjanjikan: laba bersih triwulan IV-2025 mencapai Rp18,6 triliun, melonjak 40 persen QoQ dan 35 persen YoY. Angka ini menegaskan keberhasilan strategi bisnis yang fokus pada efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan non-bunga. Analisis dari Cetro Trading Insight menilai capaian ini sebagai sinyal positif bagi prospek sektor perbankan Indonesia.

NIM sepanjang 2025 sebesar 4,9 persen turun 26 basis poin YoY, akibat melandainya yield kredit. Meski begitu, penurunan biaya dana berhasil mengimbangi tekanan margin tersebut sehingga laba tetap terdorong. Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan NPL 1,1 persen dan LAR 6,5 persen, menambah keyakinan manajemen atas fundamental jangka panjang.

Kredit tumbuh positif 13 persen YoY, dipimpin oleh segmen korporasi yang tumbuh 23 persen dan kredit komersial 12 persen YoY. Sementara DPK juga tumbuh kuat, terutama CASA yang naik 12,6 persen YoY menjadi Rp1.431 triliun, menambah likuiditas. LDR berada di sekitar 89 persen, menunjukkan keseimbangan antara pembiayaan dan basis dana.

IndikatorNilai 2025
NIM4,9%
NPL1,1%
LDR≈89%
CASARp1.431 triliun, naik 12,6% YoY

Analisis para bank mengungkap bahwa laba bersih BMRI pada 2026 diperkirakan naik sekitar 6 persen menjadi sekitar Rp58,7 triliun, sedikit di atas konsensus sebesar Rp55,2 triliun. Proyeksi ini mencerminkan keberlanjutan momentum positif yang terjadi di bisnis inti serta potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat. Dengan fokus yang konsisten pada biaya, kualitas aset, dan diversifikasi pendapatan, upside bagi pemegang saham dinilai tetap menarik.

Pada sisi pendapatan non-bunga, ekspektasi peningkatan diperkirakan berlanjut melalui monetisasi layanan digital seperti Livin' dan peningkatan aktivitas nasabah. Pada 2025, pendapatan non-bunga tercatat naik signifikan hingga 14,5 persen YoY menjadi Rp48,5 triliun, yang menjadi pendorong utama ketahanan laba jangka panjang meski tekanan margin masih ada.

Opex diperkirakan relatif datar atau bahkan menurun seiring penyesuaian satu kali di 2025, sehingga cost-to-income ratio CIR diproyeksikan turun menjadi sekitar 44 persen pada 2026 dibandingkan 46 persen di 2025. Secara keseluruhan, beberapa analis memproyeksikan laba BMRI sekitar enam persen pada 2026 menjadi Rp58,7 triliun, sedikit di atas konsensus.

Penilaian Pasar dan Rekomendasi Analis

Indo Premier Sekuritas menempatkan BMRI sebagai saham pilihan utama di sektor perbankan, dengan target harga mencapai Rp6.400. Penilaian tersebut didasarkan pada prospek pertumbuhan laba dan valuasi yang relatif menarik dibandingkan rata-rata historis. Nama BMRI juga menjadi fokus dalam rekomendasi mereka sebagai pionir perbaikan kinerja sektor perbankan Indonesia.

Sedangkan MNC Sekuritas turut mendorong rekomendasi Buy untuk BMRI dengan target harga sekitar Rp6.050. Rekomendasi ini menimbang peningkatan pendapatan non-bunga serta prospek layanan digital yang diharapkan meningkatkan efisiensi operasional dan menghasilkan kontribusi pendapatan non-tradisional yang lebih besar di masa mendatang.

Selain faktor profitabilitas yang membaik, pengelolaan risiko dan likuiditas tetap menjadi fokus utama di tengah penilaian Moody's yang memberi outlook negatif terhadap lima bank besar Indonesia, termasuk Bank Mandiri. Pihak manajemen menegaskan komitmen menjaga kualitas pembiayaan, likuiditas, dan permodalan untuk menjaga fundamental jangka panjang, sambil tetap melanjutkan strategi pertumbuhan berkelanjutan.

broker terbaik indonesia