Para ekonom Standard Chartered, Christopher Graham dan Saabir Salad, menilai data aktivitas ekonomi UK yang lebih kuat di awal 2026 menimbulkan pertanyaan tentang seberapa cepat Bank of England (BoE) akan memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya. Meskipun mereka mempertahankan proyeksi pemotongan pada Maret dan melihat peluang untuk tiga kali penurunan sepanjang tahun menuju level 3,00%, jalur ini tetap bergantung pada momentum pemulihan yang terjadi secara nyata serta dinamika internal negara tersebut.
Data yang lebih kuat dari yang diperkirakan telah mendorong para analis untuk menilai ulang ekspektasi mengenai kapan tepatnya pelonggaran akan terjadi. Mereka menegaskan bahwa kebijakan rentan berubah jika pertumbuhan ekonomi menunjukkan sinyal yang berkelanjutan, karena BoE perlu menyeimbangkan perlambatan biaya hidup dengan tekanan dari pasar tenaga kerja.
Selanjutnya, para ekonom menyoroti bahwa disinflasi yang mulai terlihat serta perbaikan ekonomi bisa menggeser jalur pemotongan, meski skenario tiga pemotongan menuju 3,00% tetap menjadi kerangka kerja utama. Keputusan BoE akan sangat tergantung pada bagaimana data momentum ekonomi berlanjut di sepanjang tahun ini.
Perkiraan ini juga menyoroti bagaimana kondisi tenaga kerja dan dinamika inflasi memengaruhi keputusan pelonggaran. Uniknya, laju pengangguran diperkirakan naik pada Desember, sementara pertumbuhan upah cenderung melambat. Kondisi ini mendukung kelanjutan tren disinflasi dan memberi ruang bagi BoE untuk melanjutkan pemotongan secara bertahap jika diperlukan.
Inflasi inti dan headline juga berada dalam jalur penurunan, dengan proyeksi penurunan tajam pada April. Hal ini memberi kredibilitas bagi argumen bahwa kebijakan pelonggaran bisa dilanjutkan lebih lanjut pada pertemuan kebijakan berikutnya, asalkan momentum harga tidak kembali meningkat secara mendadak.
Penurunan inflasi dan peningkatan tekanan pada pasar tenaga kerja memang bisa menambah ruang bagi BoE untuk melakukan penurunan suku bunga lagi, namun risiko eksternal seperti dinamika perdagangan dan dinamika politik domestik tetap menjadi faktor penting yang dapat mengubah jalur kebijakan.
Meski ada dukungan data ekonomi yang lebih kuat, para analis menekankan bahwa jalur pelonggaran tidak lepas dari risiko pertumbuhan. Mereka menilai peluang tiga pemotongan hingga akhir tahun tetap ada, namun akan sangat bergantung pada apakah peningkatan momentum ekonomi dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Dalam konteks risiko politik domestik dan volatilitas perdagangan global, proyeksi BoE menuju level 3,00% pada akhir tahun bisa menjadi dekat. Ketidakpastian ini berarti kerangka kebijakan akan tetap sangat responsif terhadap kebijakan fiskal, data inflasi, dan data tenaga kerja yang akan datang.
Secara keseluruhan, jalur kebijakan BoE tetap menumbuhkan asumsi pelonggaran bertahap meskipun beberapa data terbaru menunjukkan kekuatan ekonomi. Pasar mata uang cenderung merespons ekspektasi ini dengan volatilitas yang lebih besar pada pasangan GBPUSD, seiring investor menilai implikasi jangka menengah dari perubahan kebijakan.