BoJ Diperkirakan Naik Suku Bunga Menjadi 1%; USD/JPY Pertahankan Bias Bullish Menjelang Keputusan Kebijakan

BoJ Diperkirakan Naik Suku Bunga Menjadi 1%; USD/JPY Pertahankan Bias Bullish Menjelang Keputusan Kebijakan

Signal USD/JPYBUY
Open160.000
TP161.000
SL159.650
trading sekarang

BoJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% pada pertemuan Juni. Gubernur Kazuo Ueda tidak menghadiri rapat karena masalah kesehatan, sehingga wakil gubernur Ryozo Himino memimpin rapat tersebut. Langkah kebijakan ini diperkirakan bersifat hawkish untuk menekan inflasi dan menyeimbangkan kekuatan yen yang cenderung melemah, meski pasar sedang menilai prospek jangka pendek secara hati-hati.

Sebelum pengumuman, pasangan USD/JPY diperdagangkan di atas angka 160.00, menunjukkan bias naik meski permintaan dolar AS sedang melemah secara menyeluruh. Pasar telah menakar bahwa kenaikan 25 basis poin telah diantisipasi sebagian besar, sehingga efeknya terhadap yen dapat terbatas. Dalam konteks pembelian obligasi pemerintah Jepang, perubahan kebijakan pembelian juga menjadi fokus utama para pelaku pasar.

Inflasi Jepang terlihat meningkat, meski CPI YoY April turun menjadi 1.4%, sementara tekanan harga grosir melonjak ke 6.3% pada Mei. Kondisi ini menambah argumen bagi BoJ untuk tetap berhati-hati karena lonjakan biaya impor akibat yen melemah dapat memperpanjang tekanan inflasi. Mandat BoJ menargetkan inflasi sekitar 2% secara berkelanjutan, sehingga kebijakan hari ini dipandang sebagai alat menjaga stabilitas harga jangka menengah.

Secara teknikal, gambaran grafik USD/JPY menunjukkan moving average 20 hari yang sedang naik dan berada di atas SMA 100 dan SMA 200 hari, menandakan momentum positif meski kekuatan saat ini tidak terlalu kuat. Indikator teknikal telah kehilangan sebagian dorongan ke atas, namun tetap berada di zona positif tanpa arah jelas. Harga juga bertahan di atas dukungan dinamis sekitar 159.65, sehingga level tersebut menjadi landasan bagi tren jangka pendek.

Para pelaku pasar telah memasukkan ekspektasi kenaikan 25 bps, sehingga reaksi jangka pendek terhadap keputusan BoJ cenderung terbatas. BoJ juga kemungkinan mengumumkan rencana mengurangi pembelian obligasi jangka panjang, yang bisa menambah volatilitas pada USD/JPY dalam beberapa sesi ke depan. Karena temu pers akan dipimpin oleh Wakil Gubernur Shinichi Uchida, kejutan kebijakan diperkirakan minimal.

Jika harga menembus 161.00 ke atas, arah pergerakan bisa mengarah ke target jangka pendek sekitar 161.00 atau lebih tinggi. Namun, potensi penolakan di sekitar 161.00 tetap ada karena otoritas Jepang tidak ingin membiarkan pelemahan yen berlanjut tanpa intervensi. Sebaliknya, jika harga turun menembus 159.65, penurunan lebih lanjut bisa berlanjut menuju 159.00 atau 158.60 sebagai level dukungan utama.

Kondisi geopolitik juga mempengaruhi dinamika pasar. Krisis di Timur Tengah mencapai titik kritis, dan kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz serta memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari telah meningkatkan optimisme di pasar. Perubahan sentimen ini cenderung menekan permintaan terhadap dolar AS secara sementara dan memperkecil volatilitas di beberapa pasangan mata uang utama.

Di sisi biaya, harga minyak yang lebih tinggi serta melemahnya yen meningkatkan tekanan inflasi melalui biaya impor. Walau CPI inti Jepang relatif rendah, lonjakan biaya energi dapat menambah tekanan bagi BoJ untuk menilai ulang kebijakannya. Risiko second-round effects meningkat jika upah meningkat dan ekspektasi inflasi membaik, sehingga kebijakan jangka menengah perlu diwaspadai.

Untuk trader USD/JPY, level kunci tetap 159.65 sebagai dukungan dinamis dan 161.00 sebagai batas atas yang perlu diwaspadai. Secara teknikal, peluang beli tetap relevan selama harga menjaga posisi di atas dukungan utama, dengan target ke area 161.00 atau lebih tinggi. Namun jika harga menembus rendah dari 159.65, persepsi pasar bisa berubah menjadi bearish, dan pergerakan selanjutnya bisa melaju ke rentang bawah.

banner footer