BREN Capai 910 MW Geothermal di 2025: Retrofit Salak dan Ekspansi Menuju Lebih Dari 1 GW

BREN Capai 910 MW Geothermal di 2025: Retrofit Salak dan Ekspansi Menuju Lebih Dari 1 GW

trading sekarang

Di tengah gelombang transisi energi, Barito Renewables Energy (BREN) menunjukkan dorongan luar biasa dalam operasional panas bumi. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti konkret bahwa perseroan berupaya menjadi penggerak utama energi bersih di Indonesia. Cetro Trading Insight menilai momentum ini bisa menjadi katalis bagi dinamika saham BREN di masa depan. Langkah strategis perusahaan menegaskan komitmen untuk mempercepat transisi energi dengan portofolio pembangkit panas bumi yang lebih kuat.

Hingga akhir 2025, kapasitas total pembangkit panas bumi yang dioperasikan BREN mencapai 910 MW, naik 24 MW dibandingkan 2024. Peningkatan ini berasal dari penyelesaian retrofit Salak pada kuartal III-2025, yang menambah 7,7 MW kapasitas, melampaui ekspektasi awal. Selain itu, portofolio PLTP milik Star Energy mencakup Salak 430 MW, Wayang Windu 210 MW, dan Darajat 270 MW, dua di antaranya diakuisisi dari Chevron pada 2017–2018.

CEO Barito Renewables, Hendra Soetijpto Tan, menegaskan bahwa kontribusi retrofit Salak serta Unit Binary Salak semakin memperkuat kapasitas panas bumi perseroan. Beliau menambahkan bahwa kinerja operasional yang lebih solid akan mendukung pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang. Informasi ini dirangkum untuk pembaca Cetro Trading Insight sebagai gambaran bagaimana BREN memanfaatkan peluang pasar energi terbarukan.

Ekspansi menjadi pilar strategi BREN menjelang 2026, dengan fokus pada penyelesaian retrofit Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3. Kedua proyek ini dipandang mampu meningkatkan efisiensi serta output energi, menjaga momentum pertumbuhan portofolio. Cetro Trading Insight menilai langkah ini sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan pendapatan jangka menengah.

Rencana operasional diperkirakan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2026, sehingga kapasitas terpasang diproyeksikan melampaui 1 GW. Hal ini didorong oleh penyelesaian unit-unit baru yang memperluas jangkauan pembangkit geotermal perseroan. Selain itu, eksplorasi Hamiding diperkirakan menghasilkan potensi sumber daya antara 55–60 MW, menandai babak berikutnya dari strategi ekspansi BREN.

Hendra menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga menyiapkan fondasi untuk ekspansi berkelanjutan. Proyek Hamiding dan retrofit dipandang sebagai komponen inti dari strategi jangka panjang BREN untuk menjaga posisi sebagai pemimpin energi panas bumi di Indonesia. Dengan kemajuan ini, perusahaan berada di jalur untuk memperkuat pasokan energi terbarukan nasional dan memperbaiki profil investasi bagi pemegang saham.

Prospek Masa Depan dan Implikasi pada Saham BREN

Dengan proyeksi kapasitas yang melampaui 1 GW setelah penyelesaian proyek kunci, BREN berada pada posisi kukuh untuk menarik investor yang menaruh fokus pada energi bersih. Peningkatan kapasitas geotermal diharapkan menghasilkan aliran pendapatan yang lebih stabil dan biaya operasional yang lebih efisien. Dalam kajian Cetro Trading Insight, posisi BREN dipandang sebagai potensi upside bagi saham energi terbarukan di Indonesia.

Konteks regulasi dan dukungan kebijakan untuk energi terbarukan memperkuat daya tarik aset BREN di pasar modal. Fokus pada efisiensi melalui retrofit serta pengembangan unit berpotensi meningkatkan load factor dan margin operasional. Meskipun menghadapi tantangan operasional, prospek jangka panjang tetap positif berkat peran BREN dalam transisi energi nasional.

Investors perlu memahami bahwa kiprah jangka panjang memerlukan evaluasi berkala terhadap kinerja aset dan biaya investasi. Namun, posisi BREN sebagai pemimpin energi terbarukan Indonesia memberi peluang bagi saham terkait proyek energi bersih. Kebijakan pemerintah, permintaan energi bersih, dan progres operasional BREN menjadi katalis utama bagi potensi upside di masa depan.

broker terbaik indonesia