Di tahun 2025, INKP dan TKIM menunjukkan dinamika kinerja yang patut dicermati para pelaku pasar. Meski penjualan bersih turun tipis, kedua emiten kertas ini berhasil mempertahankan momentum laba berkat efisiensi operasional. Analisis ini dilakukan oleh Cetro Trading Insight untuk menjelaskan faktor pendorong dan implikasinya bagi prospek saham kedua perusahaan.
INKP mencatat penjualan bersih turun 0,8 persen menjadi 3,17 miliar dolar AS, sedangkan TKIM turun 0,04 persen menjadi 984,7 juta dolar AS. Pada praktiknya, INKP mencatat kenaikan penjualan di semua segmen seperti pulp, kertas budaya, kertas industri, tisu, dan segmen lainnya; TKIM juga mengalami peningkatan volume penjualan di seluruh lini produk.
Meski penjualan turun, laba kotor keduanya meningkat berkat efisiensi beban pokok. Laba kotor INKP naik 0,3 persen menjadi 1,02 miliar dolar, sementara TKIM tumbuh 2 persen menjadi 150,9 juta dolar. Laba bersih INKP meningkat 12 persen menjadi 453 juta dolar, sedangkan TKIM turun 7,2 persen menjadi 275 juta dolar. Perbedaan ini mencerminkan bagaimana beban operasional keduanya mempengaruhi hasil akhir di tengah dinamika volume.
| Perusahaan | Penjualan Bersih | Laba Kotor | Laba Bersih | Kas & Setara | Porsi Ekspor |
|---|---|---|---|---|---|
| INKP | 3,17 miliar USD | 1,02 miliar USD | 453 juta USD | 1,22 miliar USD | 55% |
| TKIM | 984,7 juta USD | 150,9 juta USD | 275 juta USD | 114 juta USD | 57% |
Beban operasional menjadi pembeda utama antara INKP dan TKIM. TKIM mencatat kenaikan beban penjualan sekitar 20 persen, sementara INKP berhasil menekan beban penjualan secara signifikan. Kondisi ini menegaskan bahwa manajemen biaya berperan besar dalam menjaga margin meski volume berubah.
Sebagai akibatnya, laba kotor keduanya meningkat meski penjualan menurun. Laba kotor INKP mencapai 1,02 miliar USD dan TKIM 150,9 juta USD karena efisiensi beban pokok pendapatan. Efisiensi biaya pada masing-masing lini produk menjaga margin kotor meski volume jualannya berfluktuasi.
Laba bersih keduanya menunjukkan arah yang berbeda. INKP melaporkan kenaikan 12 persen menjadi 453 juta USD, sedangkan TKIM turun 7,2 persen menjadi 275 juta USD. Perbedaan ini mencerminkan bagaimana beban operasional berbeda mempengaruhi keuntungan bersih meski pendapatan relatif serupa.
Di sisi likuiditas, kedua perusahaan menunjukkan penurunan kas dan setara meski aset total meningkat. Kas INKP turun 31 persen menjadi 1,22 miliar USD, sedangkan kas TKIM turun 39 persen menjadi 114 juta USD. Penurunan likuiditas ini menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pembiayaan operasi dan kebutuhan modal kerja di masa depan.
Ekspor tetap menjadi pilar pendapatan: INKP mempertahankan porsi ekspor sekitar 55 persen, TKIM mencapai 57 persen dari penjualan. Perubahan ini menunjukkan upaya diversifikasi pasar untuk mengurangi ketergantungan pada pasar domestik. Peningkatan porsi ekspor juga dapat membantu menjaga arus kas meski dinamika permintaan domestik berfluktuasi.
Prospek 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen menjaga efisiensi biaya, menjaga margin, dan menjaga arus kas. Selain itu, dinamika mata uang dan harga bahan baku menjadi risiko yang perlu dimonitor. Investor perlu memantau rasio ekspor terhadap produksi dan utilisasi kapasitas sebagai indikator perubahan kinerja.