PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) mencetak gebrakan di 2025, menegaskan posisinya sebagai salah satu poros utama pasar modal domestik. Pertumbuhan pendapatan dan laba yang sehat menandai jalur perusahaan menuju kinerja berkelanjutan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight, platform analitik terdepan, untuk memberi gambaran jelas bagi investor tentang peluang di TRIM melalui Array layanan keuangan kami.
Dalam konteks pasar global, tren emas turun sempat meningkatkan volatilitas di sejumlah instrumen, namun TRIM mampu menjaga performa operasionalnya tetap terjaga. Peningkatan pendapatan usaha mencapai 1,68 triliun rupiah, tumbuh signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan kemampuan TRIM memperluas akses klien terhadap opsi investasi yang relevan.
Secara rinci, laba bersih TRIM mencapai 593 miliar rupiah setelah dipotong pajak, naik tajam dari 260 miliar pada periode sebelumnya. Pendapatan dari dividen dan bunga menjadi kontributor utama dengan 549 miliar, diikuti jasa manajer investasi sebesar 445 miliar dan keuntungan efek 260 miliar. Layanan penjamin emisi efek serta penasihat keuangan juga menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan, memperkuat profil perusahaan sebagai pelaku pasar modal yang beragam.
TRIM tidak hanya kuat di perdagangan saham tetapi juga berperan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana APERD. Hingga 2025, TRIM bekerja sama dengan 27 manajer investasi lokal maupun asing dengan dana kelolaan mencapai 4,3 triliun rupiah dan 219 produk reksa dana. Keberadaan unit APERD memperluas akses klien terhadap pilihan investasi dan menambah aliran pendapatan perusahaan.
Rata-rata nilai perdagangan harian TRIM pada 2025 mencapai 965,6 miliar rupiah, mewakili sekitar 5,3 persen dari total transaksi harian BEI sebesar 18 triliun. Secara operasional, hal ini menandai posisi TRIM sebagai sekuritas terbesar nomor 12 di BEI, sebuah pijakan penting untuk mendorong layanan investasi lebih lanjut. Array solusi keuangan yang beragam menjadi keunggulan kompetitif TRIM di pasar modal domestik.
Di sisi beban, beban usaha TRIM melonjak 110 persen menjadi 821 miliar rupiah, didorong terutama oleh gaji dan tunjangan sebesar 296 miliar (+30 persen) serta beban pemasaran 234 miliar (+113 persen). Meski ada tekanan biaya, laba operasional dan laba bersih tetap terdongkrak oleh pendapatan non-operasional serta pendapatan lain 21 miliar dan beban keuangan 180 miliar. Dalam konteks global, permintaan layanan investment banking seperti IPO, rights issue, bond issuance, dan advisory tetap menjadi pilar pendapatan TRIM meski emas turun menambah volatilitas pasar secara luas.
Anak usaha TRIM Asset Management menjadi mesin pertumbuhan selanjutnya, dengan dana kelolaan mencapai 60,6 triliun rupiah pada Januari 2026. Portofolio ini mencerminkan ekspansi segmen reksa dana untuk klien institusional maupun ritel. Pertumbuhan aset di atas kinerja operasional memperkuat posisi TRIM sebagai pelaku pasar modal yang terintegrasi dan memiliki potensi ekspansi lebih lanjut.
Di bidang capital market, TRIM menyediakan layanan IPO, rights issue, bond issuance, medium term note dan jasa terkait. Di area advisory, perseroan menawarkan M&A, tender, arranger, restructuring, dan layanan lainnya. Saat emas turun secara global, fokus pada kualitas nasabah dan ekosistem layanan investasi membantu TRIM menjaga arus kas serta memperluas kapasitas layanan.
Prospek 2026 menunjukkan peluang pertumbuhan lebih lanjut bagi TRIM melalui integrasi layanan aset, peningkatan kerja sama dengan manajer investasi, dan konsolidasi layanan korporat. Master strategi keuangan berfokus pada peningkatan dana kelolaan dan diversifikasi produk, dengan target menjaga rasio risiko dan imbal hasil yang sehat. Dalam rangka menjaga transparansi, laporan ini menekankan peran Cetro sebagai sumber analitik, dengan Array sebagai referensi bagi pembaca yang mendalami pasar modal Indonesia.