Di pembukaan perdagangan Selasa, bursa Asia berhadapan dengan badai sentimen global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga energi serta dinamika ekonomi global. Investor menimbang dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan laju pemulihan ekonomi. Ketidakpastian kebijakan membuat langkah pasar terasa sangat volatil.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar satu persen, dipicu penurunan di Korsel sebesar 2,28 persen dan lemah di sektor otomotif serta teknologi. Indeks Nikkei 225 Tokyo merosot 1,34 persen, sementara Shanghai Composite tergerus 0,29 persen dan Hang Seng turun 0,10 persen di tengah tekanan likuiditas. ASX 200 Australia juga berkurang 1,29 persen, dan futures S&P 500 e-mini turun sekitar 0,2 persen.
Para analis menyoroti bahwa ketidakpastian kebijakan dan peningkatan risiko geopolitik menambah tekanan pada pasar. Seorang ahli Asia quant strategist di Bernstein, Singapura, menyatakan bahwa eskalasi antara negara-negara utama berpotensi memperparah volatilitas regional. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami dinamika ini tanpa terjebak hype pasar.
Harga minyak Brent sempat melonjak intraday hingga 82,37 dolar per barel, tertinggi sejak Januari 2025, sebelum akhirnya ditutup naik 7,1 persen di level 78,07 dolar. Lonjakan ini mencerminkan respons pasar terhadap risiko geopolitik dan gangguan pasokan. Di sisi lain, harga gas alam acuan Eropa dan LNG Asia melonjak sekitar 40 persen, menambah tekanan pada biaya energi global.
Lonjakan energi mempersulit upaya Federal Reserve untuk menjaga inflasi tetap terkendali, sementara pandangan para pembuat kebijakan terkait dampak kecerdasan buatan terhadap ekonomi AS masih beragam. Pergerakan harga energi juga memengaruhi volatilitas pasar keuangan global, dengan imbal hasil obligasi dan proyeksi pertumbuhan terdampak oleh dinamika geopolitik.
Data manufaktur ISM menunjukkan aktivitas tumbuh stabil pada Februari, namun indikator harga di tingkat pabrik melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga setengah tahun. Kondisi ini menambah kekhawatiran bahwa inflasi bisa tetap tinggi meski ada gejolak pasar. Pasar juga mengamati sinyal kebijakan melalui indikator pasar yang menunjukkan bagaimana ekspektasi suku bunga berubah menjelang rapat mendatang.
Futures Fed funds menunjukkan peluang tersirat sebesar 97,5 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan dua hari yang berakhir 18 Maret. Hal ini menandakan konsensus pasar terhadap kebijakan yang berhati-hati di tengah volatilitas geopolitik dan inflasi energi. Investor juga menimbang bagaimana kondisi ini akan mempengaruhi likuiditas dan harga aset berisiko.
Indeks dolar AS bertahan di sekitar level tertinggi enam pekan, mencerminkan aliran ke aset safe-haven di tengah ketidakpastian regional. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 1,9 basis poin menjadi 4,0288 persen, menunjukkan dinamika pendapatan tetap di tengah pasar yang bergejolak. Pasar juga mengamati sinyal-sinyal kebijakan lain sambil menilai risiko jangka panjang bagi portofolio investasi.
Untuk para investor, fokus utama adalah menjaga diversifikasi portofolio dan memantau pergerakan harga Brent serta volatilitas pasar secara umum. Kami di Cetro Trading Insight menekankan pentingnya kesiapsiagaan terhadap fluktuasi likuiditas dan potensi perubahan sentimen pasar yang dipicu oleh eskalasi geopolitik. Tetap waspada terhadap perkembangan di Timur Tengah yang dapat mengubah arah kebijakan moneter dan dinamika pasar di bulan-bulan mendatang.