Analisis ING melalui James Smith menunjukkan inflasi Inggris naik menjadi 3.3% pada Maret karena kenaikan biaya bahan bakar. Proyeksi selanjutnya menunjukkan angka ini berpotensi bergerak menuju kisaran 3.5-4% pada paruh kedua tahun 2026, dengan faktor utama berupa peningkatan tagihan energi rumah tangga pada Juli. Pergerakan inflasi ini menambah volatilitas dalam data ekonomi dan menambah kemungkinan penyesuaian asesmen kebijakan fiskal di masa mendatang.
Menurut skema ING, inflasi diperkirakan mencapai puncaknya sedikit di atas 4%, meskipun pandangan terhadap kebijakan BoE menyarankan tidak ada langkah kenaikan suku bunga pada tahun ini. Dalam skenario dasar, minyak diperkirakan berada di 90-100 USD/barel pada kuartal II-III, gas alam sekitar 55 EUR/MWh, dan tekanan inflasi diperkirakan bertahan di sekitar 4% pada puncaknya, sebelum berfluktuasi di kisaran 3.5-4% pada sisa tahun. Lonjakan biaya energi rumah tangga menjadi pendorong utama, dengan Ofgem yang akan memperbarui cap harga pada Juli.
Sambil menilai risiko, pandangan ini menunjukkan BoE cenderung menahan kebijakan karena inflasi tidak menembus level tinggi secara konsisten. So long as inflation tidak spike materially above 4%—level yang dinilai BoE sebagai risiko, kebijakan akan lebih diarahkan pada penahanan daripada pemotongan atau kenaikan. Selain itu, pasar kerja yang rapuh menambah kendala bagi otoritas moneter untuk melangkah lebih jauh dalam tahun ini. Pada akhirnya, analisis ini menekankan bahwa dinamika harga energi dan upah akan menjadi penggerak utama keputusan kebijakan di sisa 2026.
Kebijakan cap harga energi oleh Ofgem diperkirakan memberikan lonjakan tagihan rumah tangga sekitar 25% untuk listrik dan gas saat Juli diperbarui. Dampak ini akan menambah beban biaya hidup dan memperluas tekanan inflasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ini juga meningkatkan peluang bahwa konsumen akan mengubah pola pengeluaran, yang pada akhirnya bisa menekan permintaan domestik. Energi menjadi faktor utama dalam lanskap inflasi, terutama dalam konteks pemulihan pasokan dan dinamika harga energi global.
Jika harga grosir tetap pada level saat ini, kenaikan cap Juli mungkin hanya 10-15% dan sebagian besar efek kenaikan tersebut diperkirakan mereda pada Oktober. Proyeksi ini sejalan dengan inflasi yang diperkirakan berada di sekitar 3.5% pada puncaknya dalam beberapa bulan ke depan. Meskipun demikian, volatilitas harga energi tetap menjadi risiko utama bagi pendapatan rumah tangga dan stabilitas harga barang konsumsi. Karena itu, kebijakan fiskal dan tarif energi menjadi variabel penting untuk dianalisis investor setiap bulan.
Selain energi, tekanan pada harga makanan juga diperkirakan meningkat seiring pergerakan harga energi dan faktor cuaca yang memengaruhi rantai pasokan. Dampak kumulatifnya adalah tekanan inflasi yang lebih lebar, yang akan membentuk ekspektasi konsumen dan perilaku belanja. Kebijakan harga energi akan mempengaruhi daya beli rumah tangga serta dinamika inflasi, sehingga pelaku pasar perlu memantau komponen biaya inti dengan seksama. Secara keseluruhan, dinamika energi dan makanan menjadi dua senjata utama bagi perumusan kebijakan dan pandangan pasar di sisa 2026.
BoE diperkirakan menahan suku bunga sepanjang tahun ini asalkan inflasi tidak melonjak melebihi batas sekitar 4%. Pasar tenaga kerja yang rapuh menambah ruang bagi BoE untuk menjaga kebijakan tidak berubah, meskipun tekanan inflasi tetap ada. Keputusan ini mencerminkan prioritas stabilitas harga dan perlunya menjaga daya saing ekonomi. Dengan konteks ini, risiko kebijakan lebih cenderung ke pendalaman kebijakan non-naik daripada pemotongan.
Secara pasar, pergerakan imbal hasil gilts dan volatilitas GBP lebih banyak dipicu oleh evolusi harga energi dan data inflasi daripada ekspektasi kenaikan suku bunga. Investor perlu membedakan antara risiko jangka pendek akibat fluktuasi biaya energi dan tren inflasi jangka menengah yang lebih terukur. Arah kebijakan moneter akan sangat tergantung pada dinamika harga energi, upah, dan pertumbuhan ekonomi domestik. Perubahan di salah satu variabel tersebut dapat mengubah prospek mata uang dan paparan portofolio secara signifikan.
Pelajaran bagi investor adalah memantau perkembangan energi, tekanan upah, serta petunjuk kebijakan moneter sebagai sinyal utama. Meskipun skenario baseline menunjukkan stabilitas, risiko eksternal seperti volatilitas energi dan dinamika pasar tenaga kerja perlu diwaspadai untuk alokasi aset kedepan. Investor disarankan menjaga diversifikasi, memperhatikan level risiko, dan memanfaatkan peluang hedging pada faktor utama yang mempengaruhi inflasi. Pada akhirnya, pemantauan data ekonomi Inggris dan kebijakan BoE menjadi kunci strategi investasi bagi para pelaku pasar.