
Brent crude mencatat penurunan persentase bulanan terbesar sejak Desember 2025 meskipun sempat melampaui 126 USD per barel karena kekhawatiran terkait Selat Hormuz. Laporan yang dikutip UOB strategists menekankan volatilitas tinggi akibat dinamika pasokan dan risiko geopolitik. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami arah pasar minyak secara lebih jelas.
WTI tetap berada pada level tinggi sepanjang pekan dan mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Sentimen didorong oleh tensi geopolitik serta retorika kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Pelaku pasar menilai bagaimana potensi gangguan pasokan mempengaruhi pergerakan harga minyak mentah di pasar global.
Brent sempat melampaui 126 USD/bbl pada sesi perdagangan awal minggu, namun kemudian terkoreksi karena kekhawatiran atas kelanjutan negosiasi AS-Iran. Pada akhirnya Brent menyisihkan beberapa sesi dengan tekanan turun seiring libur pasar di beberapa negara maju. Pada akhir April Brent menunjukkan penurunan bulanan terbesar sejak Desember 2025, menambah volatilitas yang melekat pada pasar energi.
Tekanan geopolitik meningkat ketika US-Iran belum menemukan jalan pembukaan Selat Hormuz, meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak. Brent sempat menyentuh level tertinggi, memicu spekulasi bahwa pasokan bisa terganggu jika konflik berlanjut. Kebijakan kebijakan energi dan tekanan militer di wilayah produksi utama menjadi faktor yang membentuk volatilitas harga.
Pada beberapa laporan, Presiden AS Donald Trump menyatakan komitmen terhadap blokade pelabuhan Iran, menambah ketegangan dan mempengaruhi sentimen trader. Retorika kebijakan AS juga mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap aliran minyak mentah ke pasar global. Faktor ini membuat investor tetap berhati-hati terhadap pergerakan harga jangka pendek meskipun ada pemulihan pada beberapa hari tertentu.
Perkembangan diplomatik dan kemungkinan respons negara produsen terhadap tekanan geopolitik menjadi kunci bagi arah harga ke depan. Pasar menilai apakah pembicaraan akan membaik atau justru memanas lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang. Investor disarankan memantau notulen kebijakan dan komentar pejabat energi untuk memahami probabilitas pergerakan harga.
Brent turun sekitar 3,4 persen dari penutupan sebelumnya menjelang libur Labor Day di beberapa pasar, menandai salah satu koreksi bulanan yang signifikan. Penurunan tersebut menambah dinamika volatilitas pada bulan April secara keseluruhan. Investor menilai apakah momentum turun ini akan berlanjut atau hanya bagian dari pola koreksi sementara.
WTI berada di sekitar 106 USD per barel dengan gain mingguan sekitar 12 persen, menunjukkan adanya perbedaan dinamika antara dua ukuran harga minyak mentah utama. Momentum tersebut menarik minat trader untuk mencari titik masuk baru dengan potensi risiko terbatas. Para pelaku pasar juga mengamati bagaimana perubahan arus perdagangan dan kebijakan kebijakan energi mempengaruhi spread antara Brent dan WTI.
Bagi investor, risiko geopolitik tetap tinggi sehingga manajemen risiko menjadi prioritas utama. Pemantauan terhadap perkembangan Selat Hormuz dan kebijakan negara produsen menjadi bagian dari strategi trading. Disarankan bagi posisi baru untuk mengikuti prinsip risiko/imbalan minimal 1 banding 1,5, dengan tp dan sl yang selaras dengan arah tren jangka menengah.
| Indikator | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Brent (nearest month) | USD 114/bbl | settle 30 Apr |
| WTI | USD 106/bbl | gain mingguan sekitar 12% |
| Perubahan mingguan Brent | -3.4% | penutupan sebelumnya |