BRI telah menegaskan komitmen besar untuk meningkatkan akses rumah bagi MBR melalui program kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi. Upaya ini muncul sejalan dengan dukungan perbankan nasional, terutama BRI, yang dinilai memiliki konstribusi tinggi terhadap perluasan kepemilikan rumah. Dalam konteks ini, Cetro Trading Insight mencatat bagaimana kebijakan publik bisa mengubah dinamika hidup jutaan keluarga.
Kinerja penyaluran KPR subsidi oleh BRI diperkirakan tumbuh signifikan. Data pemerintah mencatat peningkatan sekitar 100 persen pada kapasitas rumah bersubsidi tahun ke tahun. Pada 2024, BRI membiayai sekitar 16 ribu unit, dan proyeksi untuk 2025 meningkat menjadi 32 ribu unit. Angka-angka ini menunjukkan momentum positif bagi program rumah subsidi.
Ekosistem rumah subsidi tidak hanya soal kredit; ia membentuk landasan bagi pekerjaan di sektor terkait. Isu ini membawa peluang bagi petani, nelayan, buruh, ART, sopir, dan pekerja sektor lain yang bergantung pada pembangunan rumah bersubsidi. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, arah bagi MBR semakin jelas dan terukur.
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencatat rekor penyaluran yang menjadi indikator kunci kebijakan perumahan publik. Pada 2023, capaian FLPP rumah subsidi mencapai 229.000 unit, tertinggi sejak 2010. Angka tersebut menggambarkan respons kebijakan yang efektif terhadap kebutuhan hunian terjangkau.
Dalam periode pemerintahan Presiden Prabowo, proyeksi 2025 menunjukkan lonjakan signifikan menjadi 279.000 unit. Kenaikan sekitar 50.000 unit dibandingkan capaian satu tahun sebelumnya mencerminkan akselerasi program dan pemanfaatan fasilitas pendanaan secara lebih luas.
Angka-angka tersebut menegaskan minat tinggi kalangan MBR untuk memiliki rumah melalui program subsidi. Dukungan kebijakan, pembiayaan yang lebih luas, serta kepercayaan publik memperkuat stabilitas permintaan hunian bersubsidi dan dampaknya bagi sektor konstruksi lokal.
Pertumbuhan rumah subsidi memicu aktivitas berantai yang melibatkan pekerja bangunan, toko material, dan transportasi bahan bangunan. Proyek rumah bersubsidi meningkatkan permintaan material seperti semen, bata, dan keramik, sambil menciptakan peluang kerja bagi tukang, sopir, dan teknisi. Secara keseluruhan, kebijakan ini mempunyai efek multipemda atas ekonomi lokal.
Peran bank penyalur, khususnya BRI sebagai salah satu mitra utama KPR subsidi, menjadi penggerak utama ekosistem tersebut. Aktivitas konstruksi meningkat, pendapatan pekerja meningkat, serta aliran barang dan jasa menjadi lebih dinamis seiring dengan alokasi pembiayaan yang lebih luas.
Melalui arahan Presiden Prabowo dan dukungan kebijakan, pemerintah menegaskan komitmen terhadap akses hunian bagi kalangan pekerja. Dampaknya meluas ke sektor industri, konsumsi rumah tangga, serta stabilitas sosial ekonomi jangka menengah. Kebijakan ini dipandang sebagai pilar penting bagi dinamika ekonomi lokal.