
Di tengah dinamika pasar logam mulia dan kabar yang beredar, BRMS menegaskan CPM tidak dibekukan dan tetap beroperasi normal di Poboya, Palu. Pengumuman ini disampaikan melalui keterbukaan informasi BEI pada Selasa, 24 Februari 2026, dan menjadi fokus pembahasan di Cetro Trading Insight. Keterangan tersebut menenangkan investor karena operasional berjalan sesuai izin yang berlaku, menjaga ritme produksi. Emas turun belakangan ini turut membentuk konteks pasar logam, sehingga klarifikasi ini memiliki relevansi strategis bagi pelaku pasar.
BRMS menegaskan bahwa CPM tidak menerima surat resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait isu pembekuan. CPM tetap berjalan seperti biasa dan mematuhi kerangka izin yang ada. Dalam analisis di Array laporan internal, terlihat bahwa perseroan menjaga kepatuhan terhadap Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup, serta izin operasional pengelolaan limbah dan lingkungan yang relevan.
Selain itu, BRMS melaporkan peningkatan kapasitas salah satu pabrik emasnya dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari, dengan target rampung pada akhir tahun ini. Proyek ekspansi didorong untuk meningkatkan produksi emas perseroan dalam waktu dekat. BRMS juga melanjutkan konstruksi tambang emas bawah tanah dengan kadar emas 3,5–4,9 g/t yang diperkirakan mulai beroperasi pada 2027, memberikan fondasi tambahan bagi pertumbuhan jangka menengah. Semua kegiatan tersebut dilakukan mengikuti perizinan dan pengawasan KLHK sebagai rangkaian kepatuhan lingkungan. Cetro Trading Insight memantau perpaduan antara kepatuhan dan ekspansi untuk menilai dinamika pasar.
Rencana peningkatan kapasitas pabrik dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari menandai langkah besar bagi BRMS dalam meningkatkan output produksi emas. Proses teknis peningkatan kapasitas diperkirakan rampung pada akhir tahun ini, sejalan dengan arahan manajemen untuk memanfaatkan peluang pasar. Array data operasional menunjukkan tren efisiensi dan peningkatan kapasitas yang konsisten.
Di sisi harga komoditas, tren emas turun dalam beberapa bulan terakhir tetap menjadi faktor penentu dinamika pasar logam. Pihak manajemen menegaskan proyek ekspansi ini dirancang untuk menjaga kinerja produksi meski situasi harga emas turun. Evaluasi risiko dan strategi mitigasi hadir sebagai bagian dari rencana jangka menengah BRMS.
Pantauan terhadap fasilitas tambang bawah tanah juga terus berjalan: BRMS mempersiapkan tambang bawah tanah dengan kadar 3,5–4,9 g/t untuk mulai beroperasi pada 2027, memberikan dorongan tambahan pada kapasitas produksi. Dengan kepatuhan perizinan yang terjaga, proyek-proyek ini diharapkan meningkatkan daya saing BRMS secara keseluruhan.
Secara legal, BRMS menegaskan CPM telah beroperasi sepenuhnya dengan izin yang berlaku dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Izin lingkungan hidup untuk rencana penambangan dan pengolahan emas di Blok 1 Poboya tertanggal 6 Desember 2023, serta izin operasional pengelolaan limbah B3 tahap I tertanggal 29 Februari 2024, menjadi landasan praktik operasional perusahaan. Cetro Trading Insight memantau kepatuhan ini untuk pembacaan risiko.
BRMS juga telah memperoleh kelayakan operasional pemenuhan baku mutu emisi serta fasilitas pendukung lainnya pada 2 Desember 2025, menunjukkan komitmen terhadap standar lingkungan. Array analisis eksternal menunjukkan bahwa struktur perizinan yang kuat mendukung kelangsungan produksi sambil menjaga reputasi perusahaan.
Di sisi prospek harga, tren emas turun tetap menjadi faktor yang perlu diamati investor, namun potensi ekspansi produksi dan kepatuhan lingkungan berfungsi sebagai pendorong kepercayaan pasar. Cetro Trading Insight akan terus memonitor perkembangan BRMS, termasuk dampak kebijakan lingkungan terhadap kinerja jangka menengah.