BSP Potong Suku Bunga 25bp ke 4,25% dengan Nada Kebijakan Lebih Hati-hati, Peso Tertekan vs USD

trading sekarang

BSP secara resmi memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen. Pemotongan ini sesuai ekspektasi pasar dan konsensus umum. Namun, panduan kebijakan yang disampaikan terasa lebih berhati-hati karena pertumbuhan ekonomi yang masih lemah.

Dalam konteks real rates yang tetap tinggi, proyeksi GDP yang lebih rendah, serta kepercayaan konsumen yang lemah, ada sinyal bahwa ruang untuk pelonggaran lebih lanjut tetap terbuka. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan konteks pasar yang lebih jelas kepada pembaca. Ekspektasi pelonggaran lebih lanjut menjaga yield relatif tinggi dan melemahkan kepercayaan investor.

Nada keputusan juga menandakan perubahan sikap: BSP menghapus bahasa yang menyiratkan 'mendekati akhir dari pelonggaran', sehingga nada kebijakan menjadi lebih netral. Hal ini menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan di masa mendatang dan membuat pelaku pasar menimbang peluang pelonggaran lebih lanjut. Investor juga memperhatikan bagaimana kepercayaan dapat pulih sebelum ada kepastian kebijakan selanjutnya.

Memandangi arah kebijakan ke depan, momentum tergantung bagaimana cepat kepercayaan publik pulih. Bank sentral menurunkan proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 5,2% dengan risiko ke arah bawah. Data 4Q menunjukkan belanja pemerintah yang lemah menjadi hambatan berkelanjutan, mempengaruhi ekspektasi bisnis dan rumah tangga serta menekan sentimen.

Dalam konteks permintaan yang melambat, real rates masih tinggi, dan kepercayaan yang rapuh, pintu untuk pelonggaran lebih lanjut tetap terbuka. Risiko pelonggaran ini cenderung menjaga peso lemah terhadap dolar AS. Pelaku pasar menilai dinamika ini sebagai sinyal bahwa siklus kebijakan bisa melambat dan menambah volatilitas jangka pendek.

Kondisi ini mencerminkan transisi kebijakan menuju arah yang lebih netral dengan peluang langkah tambahan jika kepercayaan belum pulih. Pergerakan peso versus USD lebih banyak dipicu oleh perubahan sentimen dan data keuangan, bukan hanya angka suku bunga. Para pelaku pasar disarankan untuk memantau rilis data kepercayaan, belanja publik, serta komentar bank sentral sebagai indikator utama.

broker terbaik indonesia