Menurut pandangan Geoff Yu, ahli strategi makro EMEA di BNY, logam industri gagal mengakhiri reli awal tahun dan tidak ada dukungan makro yang cukup untuk rebound. Analitik ini dirangkum oleh Cetro Trading Insight, sebagai bagian dari komitmen kami untuk menjelaskan dinamika pasar secara mudah dipahami publik. Hal ini menandai bahwa faktor permintaan global menjadi penentu utama pergerakan harga saat ini.
Permintaan nyata untuk logam industri telah lama menjadi penghambat utama pelepasan kenaikan harga. Data harga impor di beberapa pasar utama—AS, China, dan Jerman—tercatat lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, menunjukkan tekanan permintaan yang berlanjut. Selain itu, PPI China masih menunjukkan deflasi, menambah tekanan pada harga dasar logam dan ekspektasi pasar.
Analisis menyiratkan bahwa perbaikan permintaan belum terlihat dalam indikator makro, sehingga status quo cenderung bertahan dalam jangka pendek. Para pelaku pasar cenderung menilai bahwa reli harga tidak akan mudah terjadi tanpa sinyal positif dari data utama. Secara keseluruhan, gambaran makro saat ini mengarah pada narasi 'lemah tetapi berisiko' bagi logam industri.
Data harga impor dan arah kebijakan global menunjukkan dinamika yang sulit dipatahkan. Harga impor di AS, China, dan Jerman menurun secara tahunan, mencerminkan lemahnya kegiatan manufaktur dan perdagangan. Sementara itu, PPI China diperkirakan tetap negatif sepanjang sisa tahun, memperkuat tekanan pada logam.
Keputusan Indonesia untuk mengurangi kuota nikel di tambang terbesar menyoroti risiko sisi penawaran bagi logam dasar dan bagaimana pemerintah menyeimbangkan perdagangan dengan negara mitra utamanya. Langkah semacam ini meningkatkan biaya produksi bagi produsen logam dan dapat menahan rebound harga. Pengurangan kuota juga menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan kebijakan sumber daya alam.
Dinamika ini menambah risiko downside pada seluruh spektrum logam serta mata uang yang sangat terdampak eksposur terhadap logam. Ketatnya kondisi keuangan di banyak negara berkembang menjadi faktor yang menjaga volatilitas tinggi dan menekan aktivitas investor. Dalam konteks ini, fokus risiko-imbalan perlu diperkuat untuk menghindari kerugian akibat pergerakan harga yang sengit.
Ketidakpastian kebijakan moneter dan tekanan harga energi serta input produksi memperkuat tantangan bagi logam industri. Analisa menunjukkan bahwa meski ada kemungkinan keringanan kebijakan jangka pendek, tren umum tetap saat ini tidak mendukung rebound signifikan.
Sentimen pasar terhadap logam dan mata uang yang terkait logam cenderung tetap lemah karena tahun ini menonjolkan downward drift dalam data utama. Risiko downside berlanjut, sehingga investor perlu memerhatikan level risiko dan peluang di konteks makro.
Untuk investor ritel dan institusi, strategi diversifikasi yang hati-hati dengan fokus pada manajemen risiko adalah kunci. Disarankan menggabungkan pendekatan jangka panjang dengan proteksi terhadap volatilitas harian, mengingat volatilitas di pasar komoditas dapat meningkat tanpa sinyal pemulihan yang jelas.