
Di tengah badai persaingan e-commerce nasional, Bukalapak meluncurkan transformasi operasional yang berambisi mengubah arah kinerja perusahaan. Langkah ini mencakup evaluasi biaya, restrukturisasi sumber daya, dan fokus pada potensi inti bisnis yang mampu tumbuh secara berkelanjutan. Dalam konteks harga emas dunia yang fluktuatif, langkah ini juga menjadi upaya menahan tekanan margin.
BUKA menegaskan fokus pada empat segmen utama: Mitra Bukalapak, Gaming, Investment, dan Retail, dengan strategi pemasaran lebih selektif dan terukur. Perusahaan menilai efisiensi setiap program untuk memastikan sumbangan terhadap target bisnis. Array analitik telah dipakai untuk menguji hipotesis kinerja dan menyempurnakan program-programnya.
Dari sisi tenaga kerja, perusahaan memangkas jumlah karyawan menjadi 424 orang pada akhir 2025, turun dari 1.018 pada akhir 2024. Pengurangan karyawan merupakan bagian dari perubahan struktural, termasuk penghentian dan penutupan lini bisnis dan entitas anak sejak kuartal IV-2024. Transformasi ini diharapkan meningkatkan efisiensi dan alokasi sumber daya untuk mempercepat pemulihan laba.
Secara keuangan, Bukalapak mencatat laba bersih Rp3,14 triliun di 2025 dengan pendapatan Rp6,5 triliun, tumbuh sekitar 46 persen secara tahunan. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh dinamika harga emas dunia yang sering jadi cermin risiko pasar global, namun fundamental Bukalapak tetap kuat. Menurut Cetro Trading Insight, faktor fundamental perusahaan lebih relevan bagi investor dibandingkan fluktuasi jangka pendek.
EBITDA yang disesuaikan berbalik positif menjadi Rp62 miliar, menandai peningkatan profitabilitas operasional meski biaya tetap menjadi fokus manajemen. Analisis dinamika ini memanfaatkan Array untuk memetakan arus kas, biaya, dan proyeksi laba. Langkah ini memperkuat arah transformasi yang menekankan pertumbuhan segmen inti sambil meningkatkan efisiensi operasional.
Manajemen menegaskan transformasi akan berlanjut untuk memperkuat segmen utama dan menjaga profitabilitas—bahkan jika harga emas dunia berfluktuasi, yang mencerminkan perubahan sentimen pasar global. Rencana jangka menengah mencakup evaluasi portofolio, peningkatan efisiensi biaya, dan investasi pada teknologi untuk meningkatkan layanan pelanggan. Pendekatan Array juga dipakai untuk memetakan peluang peningkatan marjin dan menjaga risiko tetap terkendali.