Pasar saham Indonesia sedang berada di fase volatil akibat beragam sentimen negatif belakangan ini. Sejumlah emiten memilih langkah buyback untuk menahan arus jual dan menjaga kepercayaan investor. Nilai total buyback mencapai Rp15,39 triliun, sebuah langkah pro-pasar yang dinilai dapat menstabilkan harga saham meski volatilitas tetap tinggi.
Langkah buyback ini bisa dilakukan dengan atau tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sejalan dengan relaksasi kebijakan dari OJK. Pelaksanaan buyback akan berlangsung mulai Februari hingga Mei 2026 dan dilakukan pada harga yang dianggap wajar oleh masing-masing perseroan. Otoritas pasar menegaskan bahwa opsi relaksasi ini bertujuan menjaga likuiditas pasar tanpa mengorbankan tata kelola perusahaan.
Di antara emiten besar yang menyiapkan dana cukup besar untuk program ini, Bank Central Asia (BBCA) menjadi kontributor utama dengan alokasi hingga Rp5 triliun. Disusul Barito Renewables Energy (BREN) dan Chandra Asri Pacific (TPIA) dengan Rp2 triliun masing-masing. Secara umum, aksi buyback dinilai dapat meredam tekanan jual dan memberi sinyal positif terhadap valuasi perusahaan, meski dampak harga jangka pendek tetap bergantung pada dinamika pasar.
Data yang dihimpun IDX Channel menunjukkan detail alokasi dana buyback yang besar. BBCA memegang porsi terbesar, yaitu Rp5 triliun, disusul oleh BREN dan TPIA yang masing-masing menyiapkan Rp2 triliun. Ketiga emiten ini menjadi barometer pelaksanaan program buyback dan pengaruhnya terhadap likuiditas saham di sektor terkait.
Selanjutnya, BBNI menganggarkan Rp1,5 triliun untuk buyback, diikuti BRPT dan CDIA masing-masing Rp1 triliun. Komitmen demikian menandakan upaya perusahaan menjaga stabilitas harga sahamnya sekaligus menjaga kepercayaan investor jangka panjang. Investor akan menilai bagaimana rencana ini dieksekusi dan apa dampaknya terhadap rasio keuangan perusahaan.
Selain raksasa tersebut, daftar emiten lain mencakup CUAN Rp750 miliar, IMPC Rp500 miliar, dan TOWR Rp300 miliar. Kemudian BUKA melanjutkan buyback tahap III dengan sisa dana Rp280 miliar, diikuti CBDK dan RAJA masing-masing Rp250 miliar. RMKE dan HEAL masing-masing menyiapkan Rp200 miliar, PBSA Rp100 miliar, serta BBHI sebesar Rp60,7 miliar.
Arah adalah positif bagi pasar, karena buyback dipandang meningkatkan kepercayaan manajemen terhadap prospek emiten. Aksi tersebut juga bisa meningkatkan likuiditas saham jika eksekusi berjalan mulus dan buyback terealisasi dalam jumlah signifikan. Namun, investor perlu waspada terhadap dinamika volatilitas jangka pendek saat perusahaan menyalurkan dana untuk program ini.
Investor disarankan untuk memantau kinerja operasional perusahaan, biaya modal, dan bagaimana buyback mempengaruhi rasio keuangan. Program ini berpotensi menekan tekanan jual pada saham yang likuiditasnya rendah, tetapi efeknya bervariasi antar emiten. Secara keseluruhan, fokus analisis tetap pada fundamental perusahaan dan rencana pelaksanaan buyback itu sendiri.
Cetro Trading Insight akan terus memantau pelaksanaan buyback, menguji dampaknya terhadap harga, dan memberikan panduan jika diperlukan. Kami menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan manajemen risiko dalam kondisi pasar yang bergejolak. Informasi terbaru akan dirilis secara berkala untuk membantu investor membuat keputusan yang lebih terinformasi.