Cetro Trading Insight menyajikan gambaran terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi China pada kuartal pertama 2026. Berdasarkan analisis Standard Chartered, GDP diperkirakan tumbuh sekitar 4.8 persen secara tahunan, didorong oleh ekspor yang tetap kuat serta pemulihan investasi aset tetap. Risiko di sisi properti dan pelonggaran kredit rumah juga menjadi perhatian dalam dua arah kebijakan dan pasar.
Analisis menunjukkan bahwa ekspor tetap menjadi motor utama, meski dinamika global tetap menantang. Sinyal produksi industri yang resilient dan rebound investasi memperkuat prospek IP di awal 2026. Secara umum, gambaran ini sejalan dengan target resmi pemerintah yang berada di kisaran 4.5 hingga 5.0 persen.
Tekanan inflasi konsumen diperkirakan turun ke level lebih rendah, sementara PPI diperkirakan akan positif, menandai perbaikan harga input. Sementara itu pertumbuhan kredit cenderung melambat karena permintaan pinjaman rumah yang lemah, sebuah pola yang konsisten dengan strategi kebijakan yang menahan kredit pada sektor-sektor yang rentan.
Ekonom Standard Chartered memperkirakan produk domestik bruto China untuk kuartal pertama 2026 meningkat sekitar 4.8 persen secara tahunan. Ia menilai dorongan utama berasal dari ekspor yang tetap kuat serta pemulihan investasi aset tetap, yang juga mendukung produksi industri.
Aktivitas industri diperkirakan tetap kokoh berkat permintaan global terhadap produk berbasis AI, sehingga sektor manufaktur nasional tetap berdaya. Perdagangan juga diperkirakan surplus membesar, berkontribusi pada laju pertumbuhan kuartal pertama.
Inflasi CPI cenderung melemah sementara PPI diperkirakan berbalik positif, menandakan perbaikan harga input. Sementara itu, pertumbuhan kredit diperkirakan melambat akibat permintaan pinjaman rumah yang lemah, sejalan dengan target 4.5–5.0 persen untuk laju pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, pertumbuhan perdagangan terlihat normalisasi pada Maret meski tetap kokoh, sebagian didorong oleh permintaan IC yang sehat. Dinamika ekspor-impor menunjukkan daya saing China di pasar global dan mendukung pandangan positif terhadap Q1.
Surplus perdagangan yang membesar memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan, menambah kepercayaan pasar dan kemampuan fiskal untuk mendukung investasi. Kenaikan volume ekspor dan rebound investasi mendorong produksi IP secara berkelanjutan.
Investasi properti diperkirakan menurun, menambah risiko bagi prospek permintaan jangka menengah. Kebijakan ekonomi kemungkinan tetap fokus pada stabilisasi melalui dukungan terhadap inovasi dan ekspor sebagai pendorong utama, sambil mengelola risiko kredit rumah dan kredit konsumsi rumah tangga.