CPO Turun Tipis di Bursa Malaysia: Persaingan Minyak Nabati Global dan Kebijakan Biodiesel Indonesia Kepung Pasar

CPO Turun Tipis di Bursa Malaysia: Persaingan Minyak Nabati Global dan Kebijakan Biodiesel Indonesia Kepung Pasar

trading sekarang

Harga minyak sawit mentah (CPO) melemah pada perdagangan Kamis, menandai babak baru dalam dinamika pasar minyak nabati global. Kontrak acuan untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives turun 0,28 persen menjadi 4.651 ringgit Malaysia per ton pada jeda perdagangan siang. Penurunan ini mencerminkan tekanan yang datang dari pelemahan minyak nabati pesaing dan sentimen pasar yang cenderung berhati-hati.

Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur, yang dikutip Reuters, menjelaskan bahwa kontrak berjangka CPO bergerak lebih rendah mengikuti pelemahan tipis di pasar minyak nabati pesaing. Aktivitas perdagangan pada sesi pagi berada di bawah rata-rata karena pelaku pasar memilih langkah waspada sambil menilai risiko pasokan dan permintaan global.

Di pasar terkait, kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,32 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 0,01 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di CBOT terkoreksi 0,33 persen. Pergerakan harga minyak sawit cenderung mengikuti arah minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing untuk memenuhi permintaan minyak nabati global.

Pergerakan minyak nabati pesaing memperkuat hubungan antar komoditas, karena para pembeli membandingkan harga dan mutu antara minyak nabati untuk berbagai kebutuhan termasuk biodiesel. Di pasar utama, minyak kedelai di Dalian turun 0,32 persen, dan minyak kedelai di CBOT turun 0,33 persen, menambah tekanan pada harga minyak nabati secara global.

Persaingan sengit antar minyak nabati global mempengaruhi permintaan terkait minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Perubahan harga pesaing membuat produsen minyak sawit menilai ulang strategi produksi dan penetapan harga untuk menjaga daya saing di pasar biodiesel internasional.

Di sisi kebijakan, Indonesia meningkatkan alokasi biodiesel berbasis minyak sawit menjadi 16,75 juta kiloliter pada 2026 untuk memenuhi lonjakan permintaan akibat implementasi mandatori B50 yang mulai berlaku pada awal bulan ini.

Faktor Makro: Nilai Tukar Ringgit dan Prospek Pasar

Nilai tukar ringgit menguat tipis sekitar 0,05 persen terhadap dolar AS, sehingga harga minyak sawit sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Investor memperhatikan kelancaran pasokan melalui jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk, karena gangguan pada jalur utama berpotensi menggagalkan arus minyak mentah dan minyak nabati masuk ke pasar utama.

Selain itu, kebijakan biodiesel mandatori yang diterapkan di Indonesia meningkatkan permintaan minyak sawit sebagai bahan baku utama, menambah dukungan fundamental bagi pasar CPO meski pergerakan harga cenderung volatil.

banner footer