ABN AMRO menyatakan bahwa dalam skenario Brent sekitar 80 dolar AS, inflasi eurozone diperkirakan kembali mendekati target 2 persen ECB dan secara umum bertahan di kisaran tersebut. Analisis ini menyoroti bahwa tekanan biaya energi moderat tidak akan mendorong inflasi keluar dari jalurnya secara signifikan dalam jangka pendek. Perkiraan ini bergantung pada bagaimana harga energi bergerak serta bagaimana pelaku pasar menghadapi transisi kebijakan.
Di sisi lain, skenario Brent di 130 dolar AS menghasilkan lonjakan inflasi 2026 sebesar sekitar 1,3 poin persentase, meski dampaknya terhadap 2027 relatif kecil. Hal ini berarti lonjakan harga energi bisa menimbulkan efek residu yang cukup singkat dibandingkan badai inflasi sebelumnya. Besaran dampak juga tergantung pada lamanya kejutan harga dan pada bagaimana upah serta dinamika tenaga kerja meresponsnya.
Para analis menambahkan bahwa proyeksi ECB pada Desember menyertakan skenario alternatif untuk pertumbuhan dan inflasi jika harga energi tetap lebih tinggi. Dalam skenario ini inflasi bisa 0,5 persen lebih tinggi pada 2026 dan 2027 serta 0,3 persen di 2028, sementara pertumbuhan turun sekitar 0,1 persen tiap tahun. Keputusan kebijakan suku bunga akan sangat didorong oleh durasi kejutan dan adanya efek kedua yang mungkin timbul pada upah dan pengeluaran rumah tangga.
Segi proyeksi ECB menunjukkan bahwa inflasi berpotensi lebih tinggi dari target pada 2026 dan 2027, bahkan mendekati target lagi pada 2028 jika harga energi tetap kuat. Perkiraannya menyentuh kenaikan sekitar 0,5 persen untuk 2026 dan 2027, dengan peningkatan 0,3 persen pada 2028 dibanding baseline. Daya dorong pertumbuhan ekonomi tampak sedikit melemah, sekitar penurunan 0,1 persen setiap tahun.
Namun skenario ini bergantung pada asumsi bahwa lonjakan minyak bisa naik di awal runtutan namun turun tajam di sisa tahun. Artinya secara relatif tidak berarti bahwa harga energi akan tetap tinggi secara berkelanjutan. Perubahan inflasi dari baseline akan bergantung pada bagaimana permintaan dan penawaran global beradaptasi terhadap harga energi.
Pandangan ECB tentang durasi kejutan dan potensi efek lanjutan menandai apa yang akan memandu kebijakan sengketa ke depan. Jika efek kedua seperti pada krisis sebelumnya muncul secara penuh, maka prospek pengetatan kebijakan bisa berubah, tetapi asumsi utama saat ini adalah dampaknya tidak akan terlalu lama.
Penilaiannya juga menekankan bahwa dampak lanjutan terhadap inflasi eurozone tidak menonjolkan volatilitas sebesar lonjakan gas pada 2022. Meskipun harga minyak lebih tinggi pada beberapa kuartal, dinamika inflasi inti dan pelebaran biaya belum menunjukkan eskalasi yang mengubah arah kebijakan secara dramatis.
Dengan demikian, proyeksi inflasi 2026 berpotensi direvisi naik, namun dampaknya terhadap 2027 dan 2028 tampak lebih moderat. Hal ini menjaga materi kebijakan moneter tetap relatif hati-hati, sambil memperhitungkan risiko jangka menengah bagi stabilitas harga.
Artikel ini disusun dengan bantuan alat AI dan telah ditinjau oleh editor. Analisis didasarkan pada skenario harga minyak dan durasi kejutan, yang membentuk landasan bagi diskusi mengenai arah kebijakan ECB.