
Harga emas kembali tertekan akibat lonjakan harga minyak dunia, yang mendorong ekspektasi suku bunga AS menjadi lebih tinggi. Pergerakan ini menambah tekanan pada logam kuning karena biaya peluang memegang aset non-yielding meningkat. Analis menilai dinamika ini lebih banyak dipicu oleh faktor makro daripada sentimen pasar jangka pendek.
Pada Maret, pasar sempat beralih dari menilai kemungkinan pelonggaran menjadi memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga. Perubahan ini mendorong tekanan harga emas dan menambah volatilitas harian di pasar komoditas.
Sejalan dengan analisis bank sentral dan lembaga seperti World Gold Council, permintaan investasi dan pembelian oleh bank sentral tetap menjadi pendorong utama. Menurut Cetro Trading Insight, meski tekanan harga sedang berlangsung, faktor-fundamental tetap mendukung permintaan jangka panjang melalui ETF, pembelian resmi, dan pasar fisik.
Jika Blokade Selat Hormuz bertahan lebih lama, risiko downside terhadap harga emas diperkirakan meningkat secara signifikan. Pasar cenderung merespons secara hati-hati terhadap setiap tanda penyelesaian negosiasi antara AS dan Iran, karena ekspektasi masih rapuh.
Signal-signal mengenai kemajuan dialog sering gagal memenuhi harapan, sehingga aksi pembelian emas cenderung bersifat tunggal dan berorientasi jangka pendek.
Meski begitu, skenario fundamenta lain tetap memberi dukungan: permintaan bank sentral dan pasar ETFs, serta kepemilikan emas fisik. Dalam jangka panjang, dinamika geopolitik akan menjadi faktor penopang utama bagi likuiditas dan harga.
Data World Gold Council menunjukkan permintaan investasi yang solid dan lonjakan minat dari bank sentral di berbagai negara. Meski ada kejutan geopolitik, permintaan ini membantu menyeimbangkan tekanan harga akibat faktor minyak dan suku bunga.
Permintaan institusional untuk logam mulia dapat menjaga kendaraan investasi tetap menarik meskipun volatilitas harga meningkat. Bank-bank sentral dilihat sebagai pembeli utama yang mendukung fondmenal, sementara investor ritel mengejar perlindungan nilai.
Jika ekuilibrium geopolitik membaik dan Hormuz dibuka kembali, harga minyak cenderung turun, yang pada gilirannya menurunkan tekanan inflasi dan memicu kebijakan moneter yang lebih stabil. Dalam skenario positif tersebut, logam kuning tetap menarik sebagai cadangan nilai jangka panjang meski tantangan fiskal dan risiko politik masih ada.