Dolar AS melanjutkan pemulihan yang kuat pada hari Selasa, membalikkan pesimisme hari sebelumnya. Investor terus menilai data CPI terbaru dan menimbang implikasi dari komentar pejabat The Fed. Dengan fokus pada pembacaan inflasi berikutnya serta data Penjualan Ritel dan Beige Book, dinamika pasar mata uang tetap berada dalam sorotan.
Indeks Dolar AS (DXY) bangkit dan melampaui level 99,00, didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hal ini menambah dukungan bagi dolar di tengah volatilitas yang dipengaruhi data ekonomi. Arah risiko juga mendapat perhatian dari laporan mingguan MBA, Harga Produsen, dan data Penjualan Ritel yang akan dirilis sebelum laporan EIA tentang stok minyak mentah.
Komentar dari pejabat The Fed seperti Paulson, Miran, dan Williams dijadwalkan untuk berbicara, menambah skenario bagaimana kebijakan moneter ke depan bisa memantik gerak dolar. Para trader menilai pandangan mereka terkait potensi pemotongan suku bunga dan dampaknya terhadap likuiditas global. Secara keseluruhan, tekanan pada dolar memberikan konteks penting bagi banyak pasangan utama dan aset berisiko.
EUR/USD menghadapi tekanan jual lebih lanjut dan terkoreksi menuju zona 1.1630 sebagai respons terhadap kekuatan Dolar. Pasar menilai prospek inflasi dan kebijakan Bank Sentral Eropa, sambil menunggu data ekonomi penting pada musim laporan berikutnya. Versi sentimen pasar saat ini menggambarkan penawaran dolar yang lebih kuat di sebagian besar sesi.
GBP/USD melemah secara signifikan sejak awal minggu, turun mendekati wilayah 1.3420. Investor merespons dinamika kebijakan dan data ekonomi yang mempengaruhi prospek sterling. Volatilitas di pasar masih tinggi karena investor menimbang risiko global serta ekspektasi perubahan suku bunga.
USD/JPY menembus level 159.00 ke level tertinggi sejak Juli 2024, menggarisbawahi perbaikan luas pada kompleks risiko. Pasar Jepang akan mencatat rilis Pesanan Alat Mesin sebagai satu-satunya data utama hari itu. Arah pergerakan yen tetap terlihat terintegrasi dengan korelasi risiko dan dinamika imbal hasil global.
WTI sempat rally melewati 61.00 dolar per barel, menantang level tertinggi tiga bulan. Traders mencerna potensi gangguan pasokan minyak mentah dari Iran dan reaksi pasar terhadap berita geopolitik. Katalis ini menambah tekanan pada ekspansi produksi dan menegaskan volatilitas harga komoditas energi.
Harga emas melaju ke rekor baru dengan melampaui 4630 dolar per troy ounce, memperpanjang kenaikan beruntun selama empat hari. Investor menilai potensi pemotongan suku bunga lebih lanjut dari The Fed dan meningkatnya gejolak geopolitik sebagai pendorong utama. Secara teknis, penutupan harga di atas level psikologis memberi sinyal minat beli lebih lanjut.
Rally harga perak juga berlanjut, menembus kisaran atas 89.00 dolar per ons dan mencapai level tertinggi sepanjang masa. Pasar logam mulia tetap mendapatkan daya tarik sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Sinyal investor menunjukkan keinginan untuk eksposur tingkat lebih tinggi pada logam berharga jika volatilitas global bertambah.