Indeks Dolar AS menunjukkan dorongan kuat karena para investor bersikap waspada menjelang rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Desember. Pasar menilai potensi volatilitas pada data inflasi yang akan memperlihatkan seberapa dekat Fed menuju perubahan kebijakan. Katalis ini membuat dolar bergerak lebih berhati-hati meski tren jangka pendek masih terlihat menguat.
Analisis menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih mempertimbangkan dua pemotongan suku bunga Fed pada tahun ini, dimulai sekitar bulan Juni. Namun, kejutan inflasi yang tidak terduga dapat membatasi langkah pelonggaran dan mendorong volatilitas obligasi serta mata uang. Sinyal-sinyal ini menempatkan dolar dalam posisi defensif terhadap data inflasi dan ekspektasi pasar.
Dalam konteks kebijakan, pernyataan pejabat Federal Reserve menekankan bahwa kebijakan saat ini berada pada posisi yang tepat untuk menekan inflasi tanpa mengorbankan tenaga kerja. Risiko bagi dolar adalah jika data ekonomi menguat lebih dari perkiraan, dolar bisa kembali menguat; sebaliknya jika inflasi melambat, arah dolar bisa melemah.
Fokus utama investor adalah apakah data IHK akan mengonfirmasi jalur inflasi yang relatif stabil, sehingga Fed lebih berhati-hati terhadap pemangkasan suku bunga. Angka inflasi yang lebih rendah dari proyeksi bisa mempercepat ekspektasi pelonggaran, sementara angka yang lebih tinggi dapat menahan langkah pemotongan.
Harga futures dana Fed dari CME Group menunjukkan bahwa probabilitas kebijakan tidak berubah pada pertemuan mendatang tetap tinggi. Pasar menilai potensi pemotongan lebih lanjut bisa muncul sepanjang tahun jika inflasi melemah sesuai ekspektasi.
Beberapa pejabat Federal Reserve menekankan bahwa kebijakan moneter sekarang berada pada posisi netral dan fokus utama tetap pada menjaga laju inflasi mendekati target tanpa mengorbankan lapangan kerja. Dengan kondisi itu, jalur kebijakan menjadi lebih fleksibel dan bergantung pada data ekonomi yang masuk.
Di samping faktor moneter, dinamika geopolitik turut membentuk arah dolar. Ketegangan terkait independensi bank sentral dan indikasi bahwa pejabat tinggi dapat menghadapi tantangan politik menambah risiko bagi pergerakan mata uang utama tersebut. Hal ini membuat investor berhati-hati dalam menimbang posisi dolar terhadap mata uang utama lainnya.
Investor juga memantau perkembangan di Timur Tengah setelah komentar bahwa negosiasi antara pemimpin Iran dan pihak lain mungkin berjalan di sela-sela pertemuan penting. Ketidakpastian politik semacam ini cenderung meningkatkan volatilitas jangka pendek pada volatilitas dolar.
Secara umum, pasar menilai bahwa langkah kehati-hatian dan kebijakan non-kejutan dapat menjaga stabilitas dolar meskipun ada risiko geopolitik yang berpotensi memicu pergerakan harga yang cepat. Pelaku pasar akan terus menganalisis data inflasi, kebijakan, serta dinamika geopolitik untuk menilai peluang dan risiko lebih lanjut.