Indeks Dolar AS diperdagangkan dekat level 99,35 setelah aktivitas volatil di sesi AS sebelumnya. Data klaim tunjangan pengangguran awal menunjukkan 198 ribu, lebih rendah dari ekspektasi 215 ribu, dan juga lebih baik dibandingkan angka 207 ribu pada minggu lalu. Kondisi ini memberi dukungan terhadap dolar meskipun ketidakpastian global tetap tinggi, karena tenaga kerja yang lebih kuat mengurangi tekanan pelonggaran kebijakan.
Klaim yang lebih rendah dari ekspektasi menambah optimisme pasar mengenai kesehatan pasar tenaga kerja AS dan potensi kehati-hatian The Fed dalam menanggapi data tersebut. Narasi tentang bagaimana ekonomi terbesar dunia bisa menahan untuk menjaga bunga tetap rendah berubah seiring keluarnya data terbaru. Investor juga menimbang pernyataan Powell yang menantang tekanan dari kebijakan fiskal yang dinilai menekan dolar dalam jangka pendek.
Kondisi geopolitik dan komentar pejabat tinggi tetap membentuk volatilitas di pasar. Sejumlah pernyataan terkait kebijakan memicu spekulasi mengenai jalur suku bunga, sementara perhatian investor juga tertuju pada dinamika di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi aliran modal secara global.
EUR/USD merosot di bawah level 1,1600 karena data AS yang kuat meningkatkan prospek penahanan The Fed. Pasar menilai bahwa kebijakan moneter AS mungkin tetap lebih tinggi lebih lama, yang menekan permintaan terhadap euro. Penurunan ini mencerminkan pergeseran sentimen menuju dolar yang lebih kuat dalam konteks data tenaga kerja yang solid.
GBP/USD turun di bawah zona 1,34 meskipun GDP bulanan Inggris tercatat 0,3%, lebih tinggi dari ekspektasi 0,1%. Hal ini mencerminkan volatilitas yang didorong dinamika ekonomi dalam negeri serta ketidakpastian mengenai arahan kebijakan. Pelaku pasar terus memantau langkah pemerintah serta sinyal dari Bank of England terkait sikap suku bunga di tengah prospek pertumbuhan.
USD/JPY berada di sekitar 158,50, dengan para pedagang tetap waspada terhadap potensi intervensi jelang pemilihan Jepang. Pedagang menimbang bagaimana kebijakan moneter Jepang akan berinteraksi dengan dinamika suku bunga global. Di saat yang sama, AUD/USD melambung, menyusul penurunan ekspektasi inflasi konsumen menjadi 4,6% di Januari, meningkatkan daya tarik aset berisiko di wilayah Asia‑Pasifik.
Emas mundur ke dekat level 4.600 dolar per ounce sejalan dengan meningkatnya harapan bahwa The Fed akan menahan kenaikan suku bunga. Pasar mengaitkan penurunan tersebut dengan perubahan ekspektasi mengenai sikap kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan. Investor menilai bahwa jalur suku bunga yang lebih datar bisa menekan volatilitas jangka pendek pada logam mulia.
Kebijakan moneter yang masih dinamis dan variabel risiko geopolitik memberikan tekanan pada aset berisiko, tetapi juga menciptakan peluang bagi diversifikasi portofolio. Pergerakan imbal hasil dan perubahan sentimen risiko global berkontribusi pada likuiditas pasar komoditas secara umum. Investor tetap fokus pada perkembangan kebijakan The Fed, data inflasi, serta berita geopolitik yang dapat mengubah prospek harga emas.
Secara keseluruhan, pasar menilai bahwa kombinasi data pekerjaan AS yang kuat, volatilitas dolar, dan dinamika risiko global akan membentuk arah pasar valuta asing serta komoditas dalam beberapa minggu ke depan. Para analis merekomendasikan kehati-hatian dan manajemen risiko yang tepat dalam menghadapi ketidakpastian yang berkelanjutan.