DBS Group Research yang dipimpin Philip Wee memangkas proyeksi dolar terhadap sebagian besar mata uang utama dan Asia. Penyesuaian ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian seputar kepemimpinan Federal Reserve dan kemerdekaan kebijakan moneter. Ketidakpastian tersebut juga terkait dinamika de-dollarization yang makin kuat di berbagai wilayah, ditambah risiko politik menjelang pemilihan paruh waktu di AS.
Para analis menjelaskan bahwa dolar sebelumnya mendapat dukungan dari perbedaan suku bunga dan keunggulan ekonomi AS. Namun, kredibilitas institusional serta risiko politik kini menjadi faktor utama yang menggerakkan pergerakan mata uang, alih-alih hanya faktor fundamental ekonomi. Perubahan pola ini menandakan pergeseran sentimen investor global yang lebih kompleks daripada pola historis.
DBS menilai ada dua kali pemangkasan suku bunga Fed yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun ini. Sementara itu dinamika de-dollarization diperkirakan berlanjut, menambah tekanan terhadap dolar di pasar internasional. Hasilnya, proyeksi USD turun terhadap sebagian besar mata uang utama dan Asia, meskipun variasi lintasan tetap tergantung pada peristiwa politik dan kebijakan fiskal ke depan.
Laju de-dollarization terus meningkat karena investor menilai kredibilitas institusional serta risiko politik yang semakin signifikan. Dolar tidak lagi mendapatkan dukungan hanya dari perbedaan suku bunga, melainkan juga faktor-faktor struktural dan geopolitik yang lebih luas. Kondisi ini memaksa pelaku pasar untuk menimbang berbagai risiko baru ketika menilai aset berdenominasi dolar.
Ketidakpastian politik di Amerika Serikat dan dinamika pemilihan umum November memperburuk volatilitas. Pemangku kepentingan global menilai bahwa prospek kebijakan moneter AS bisa berubah secara signifikan tergantung pada hasil pemilu dan dinamika legislatif. Dalam konteks itu, investor lebih cenderung mencari diversifikasi untuk mengurangi risiko tertentu terkait dolar.
Secara garis besar, pergeseran sentimen ini mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menilai ulang kebijakan suku bunga mereka. Pasar mata uang cenderung merespons secara berbeda terhadap rilis data ekonomi, kebijakan komunikasi bank sentral, dan pernyataan pejabat kunci. Efek kumulatifnya adalah peningkatan korelasi lintas aset dan potensi peluang trading yang lebih luas.
Dengan ekspektasi bahwa dolar cenderung melemah terhadap mata uang utama, pasangan seperti EURUSD bisa menjadi area peluang bagi para trader. Namun analisis seperti ini bersifat makro dan tidak mengikat pada satu sinyal teknikal tertentu. Trader perlu memperhatikan konteks kebijakan moneter global serta faktor risiko politik yang berpengaruh pada arah pergerakan pasangan mata uang.
Otoritas pasar perlu menerapkan manajemen risiko yang jelas, termasuk penggunaan stop loss dan target harga dengan rasio minimal 1:1,5. Jika kita melihat skenario dolar melemah secara berkelanjutan, maka setup trading untuk pasangan berdenominasi dolar bisa mengarah ke peluang panjang pada beberapa pasangan utama, misalnya EURUSD, USDJPY, atau GBPUSD, tergantung dinamika waistbandnya. Dalam contoh ini, kita dapat menyusun kerangka entry yang rasional dengan kehati-hatian yang diperlukan.
Contoh rencana trading hipotetis untuk EURUSD: open 1.0900, tp 1.1250, sl 1.0850. Level tersebut dirancang untuk mencapai risiko-imbalan minimal 1:1.5 dalam skenario volatilitas yang wajar. Perlu diingat bahwa rekomendasi ini bersifat edukatif dan bergantung pada realisasi harga aktual. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca dengan fokus ekonomi makro dan forex.