Penjualan Ritel AS untuk November diperkirakan naik 0,4% bulan ini, menandai pelebaran moderat dalam belanja konsumen. Laporan ini sempat tertunda karena penutupan pemerintah, meski dampaknya terhadap Dolar AS diperkirakan terbatas. Secara umum, penjualan ritel tetap menjadi indikator utama bagi permintaan domestik dan arah ekonomi AS.
Pembacaan Grup Kontrol Penjualan Ritel, yang tidak mencakup mobil, bensin, bahan bangunan, dan layanan makanan, rebound sebesar 0,8% pada Oktober setelah revisi turun 0,1% di September. Angka inti ini dianggap sebagai proxy lebih dekat terhadap kontributor belanja rumah tangga dalam perhitungan PDB. Kondisi ini menjanjikan gambaran seputar permintaan konsumen yang lebih stabil meskipun headwinds inflasi tetap ada.
Ekonomi AS memulai kuartal terakhir 2025 dengan pondasi yang relatif kokoh, tetapi tekanan inflasi yang masih tinggi menimbulkan keprihatinan soal daya beli rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah. Laporan BEA menunjukkan PDB riil tumbuh sekitar 4,3% secara tahunan dalam tiga kuartal terakhir, didorong belanja konsumsi dan ekspor meskipun investasi menurun. Pasar terus mempertimbangkan bagaimana faktor-faktor tersebut akan membentuk belanja konsumen di sisa tahun ini.
Data IHK Desember menunjukkan tingkat inflasi YoY sebesar 2,7% dengan laju bulanan 0,3%, sesuai ekspektasi pasar. Di sisi inti, IHK inti YoY naik 2,6% dan bulanan 0,2%, sedikit lebih rendah dari proyeksi tetapi masih sejalan dengan tren inflasi yang terlihat. Angka-angka ini menggarisbawahi tantangan kebijakan moneter yang dihadapi serta respons pasar terhadap potensi perubahan suku bunga.
USD berada di bawah tekanan jual moderat karena data inflasi yang relatif sesuai ekspektasi, membuat deviasi terhadap proyeksi menjadi kunci arah dalam jangka pendek. Meski demikian, sentimen pasar tetap terbebani oleh dinamika geopolitik dan perdebatan seputar kebijakan Fed yang bisa memicu reaksi kecil pada likuiditas mata uang. Para pelaku pasar memantau faktor-faktor eksternal yang bisa mengubah ekspektasi suku bunga dan kurs dolar dalam waktu dekat.
Pasangan EUR/USD terlihat terjebak dalam kisaran antara 1,1600 dan 1,1700 jelang rilis data, dengan pergerakan yang lebih cenderung sideways. Sejumlah level teknikal menjadi acuan: jika EUR/USD menembus di bawah 1,1590, bias turun bisa menguat; sebaliknya, jika harga menembus di atas 1,1740, bias naik bisa kembali muncul. Analisis teknikal dan sentimen pasar tetap menjadi pendorong utama pergerakan jangka pendek.
Penjualan Ritel AS Desember dijadwalkan rilis pada pukul 13:30 GMT, dan investor akan memperhatikan deviasi dari angka utama serta pembacaan Grup Kontrol Penjualan Ritel untuk mengukur arah dolar. Reaksi pasar terhadap deviasi yang lebih besar dari konsensus bisa menambah volatilitas pada valuta asing utama. Faktor-faktor ini menambah ketidakpastian di sekitar EUR/USD menjelang laporan tersebut.
Valeria Bednarik, Kepala Analis FXStreet, menilai EUR/USD berada dalam konsolidasi netral di sekitar 1,1650, dengan peluang bergerak sesuai momentum yang melewati level penting. Bias bearish dapat menguat jika pasangan turun di bawah 1,1590, sementara pelaku pasar dapat menargetkan area di atas 1,1740 untuk sinyal pemulihan. Kondisi teknikal yang berfluktuasi membuat arah jangka pendek sangat bergantung pada saat rilis data.
Meski risiko geopolitik ada, fokus pasar tetap pada data ekonomi dan sinyal kebijakan moneter ke depan. Ketidakpastian tersebut bisa meningkatkan volatilitas dalam beberapa sesi mendatang, sehingga manajemen risiko menjadi kunci. Investor disarankan menjaga kepatuhan terhadap level stop dan target untuk menghindari kerugian tidak perlu.