Ketegangan di wilayah Timur Tengah mendorong minyak mentah melampaui batas psikologis 100 dolar per barel, memicu volatilitas signifikan di pasar global. Dow Jones Industrial Average dibuka anjlok lebih dari seribu poin karena lonjakan harga energi dan kekhawatiran pasokan. Meski ada upaya pemulihan intraday, indeks utama tetap berada di bawah level penutupan pekan lalu.
Harga minyak West Texas Intermediate sempat mencapai sekitar 119 dolar per barel sebelum berbalik menuju kisaran 101 dolar, sedangkan Brent diperdagangkan di dekat 102 dolar. Lonjakan ini muncul setelah Saudi Arabia dan beberapa negara lain mengumumkan pemangkasan produksi untuk menahan aliran minyak yang terganggu lewat jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.
Produksi Irak dilaporkan menurun drastis hingga sekitar 70 persen, turun dari 4,3 juta barel per hari menjadi sekitar 1,3 juta. Kondisi supply shock memperparah tekanan inflasi dan meningkatkan ketidakpastian terhadap saat fed dan kebijakan moneter akan menanggapi gangguan ini. Di pasar, investor menyeimbangkan antara ketegangan geopolitik dan harapan terhadap data ekonomi yang akan menentukan arah tahun ini.
Rangkaian laporan kinerja sektor transportasi mencerminkan dampak biaya bahan bakar yang melonjak bagi pendanaan operasional. Maskapai utama terpengaruh dengan United Airlines turun lebih dari 6 persen dan Delta sekitar 4–5 persen. Operator kapal pesiar juga terdampak, dengan Carnival turun lebih dari 7 persen dan Royal Caribbean turun sekitar 6 persen.
Di sisi lain, sektor pertahanan dan energi menunjukkan dinamika yang berbeda di tengah ketegangan geopolitik. Perusahaan seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan RTX mengalami kenaikan tipis sekitar 1 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, sektor energi di indeks utama berhasil berada di wilayah positif meski kenaikan relatif terbatas.
Pergerakan Dow Jones Transportation Average menunjukkan penurunan sekitar 9 persen dalam tiga sesi perdagangan, resepsi terbesar sejak pelonggaran tarif sebelumnya. Energi menjadi penyokong volatilitas yang lebih besar bagi pasar, sementara komentar kebijakan Fed tetap menjadi bagian dari fokus trader. Secara keseluruhan, beberapa komponen industri berada di posisi teknis yang mendukung pembalikan, meski arah utama tetap berfluktuasi.
Kalendar data pekan ini menumpuk rilis data yang dapat menguji narasi inflasi dan pertumbuhan. Pada hari Rabu, data Consumer Price Index CPI untuk Februari diperkirakan naik sekitar 0,3 persen secara bulanan dan 2,4 persen secara tahunan. Angka inti CPI, yang tidak memperhitungkan makanan dan energi, diharapkan naik sekitar 0,2 persen.
Jelang akhir minggu, data Personal Consumption Expenditures PCE inti untuk Januari diproyeksikan naik sekitar 0,4 persen bulanan dengan 3,0 persen YoY, disertai dengan angka GDP kuartal empat yang direvisi. Rilis ini dipandang akan mempengaruhi penilaian pasar terhadap kekuatan inflasi dan kebijakan bank sentral. Investor akan menilai apakah momentum pertumbuhan menahan tekanan biaya energi.
Secara kebijakan, pasar menggambarkan kemungkinan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50–3,75 persen mendekati hampir 97 persen peluang. Sedangkan proyeksi indikator sentimen konsumen University of Michigan diperkirakan turun menjadi sekitar 55, mencerminkan dampak beban biaya energi pada rumah tangga. Hasil data ini bisa memicu perubahan dinamika portofolio dan ekspektasi likuiditas di minggu-minggu berikutnya.