Menurut Cetro Trading Insight, XAU/USD turun lebih dari 1,5% ke sekitar 5.090 per troy ounce setelah dolar AS menguat dan membatasi daya tarik logam kuning. DXY berada di sekitar 99,11, memberi beban pada logam mulia sebagai aset lindung nilai tradisional ketika dolar menguat. Pelaku pasar juga merespons lonjakan volatilitas di pasar energi dan imbasnya terhadap perdagangan logam mulia.
Harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 30% akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz, mendorong dolar lebih kuat dan menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Lonjakan ini juga membawa minyak mentah mendekati level sekitar 120 dolar per barel, menciptakan kekhawatiran inflasi dan meningkatkan volatilitas pasar komoditas global.
Berita kutipan mengenai upaya kebijakan muncul, dengan laporan bahwa G7 akan membahas kemungkinan rilis cadangan minyak untuk menahan lonjakan harga energi. Langkah tersebut bisa menambah dinamika pasar dan menjadi bagian penting dari diskusi kebijakan fiskal dan moneter menjelang pertemuan data ekonomi utama serta arah kebijakan Federal Reserve.
Lonjakan harga minyak mentah menambah tekanan pada dolar AS secara keseluruhan, karena investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik. Dolar AS cenderung menguat terhadap sejumlah pasangan utama, yang pada gilirannya memberi tekanan pada logam mulia meskipun permintaan hedging tetap relevan di sebagian segmen pasar.
Ketegangan regional di Timur Tengah kembali menjadi fokus, dengan dinamika antara pihak terkait yang berpotensi memperpanjang gangguan pasokan minyak. Risiko produksi dan distribusi menghadirkan volatilitas jangka pendek bagi pasar komoditas serta mata uang, sehingga pelaku pasar menyiapkan manajemen risiko yang lebih ketat.
Data ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve juga tetap menjadi pendorong utama arah dolar. Pasar memandangi rilis inflasi beserta estimasi kebijakan moneter yang diperkirakan menjadi acuan bagi langkah suku bunga di sisa tahun ini, meskipun konsensus menunjukkan penurunan terbatas di akhir 2026.
Secara teknikal, prospek harga cenderung menunjukkan bias bullish, meskipun momentum saat ini mulai melemah. RSI memperlihatkan pembeli kehilangan tenaga, yang mengisyaratkan potensi konsolidasi bila harga tidak mampu menembus level resistance utama. Pergerakan harga masih terjebak dalam kisaran sekitar 5.000–5.194, sehingga konfirmasi breakout diperlukan untuk sinyal masuk yang lebih jelas.
Level support utama berada di 5.050 dan 5.000, dengan potensi dukungan lanjutan di sekitar 4.868 yang sejalan dengan moving average 50-hari. Di sisi atas, menembus 5.100 membuka peluang menuju 5.150, sementara target teknikal berikutnya berada di 5.194 dan 5.206.
Pola grafik menunjukkan adanya resistance di 5.249 dan 5.300, yang menjadi rintangan penting bagi upaya penguatan jangka menengah. Bagi trader, konfirmasi penutupan di atas 5.100 diperlukan untuk peluang long yang lebih terukur, dengan manajemen risiko yang jelas karena volatilitas tetap tinggi.
| Level | Keterangan |
|---|---|
| 5.050 | Support pertama |
| 5.000 | Support utama |
| 4.868 | Support 50-day SMA |
| 5.100 | Rintangan awal |
| 5.150 | Target breakout |
| 5.194 | Rintangan penting |
| 5.206 | Rintangan intraday |
| 5.249 | Resistance |
| 5.300 | Target jangka menengah |