PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengumumkan pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:25. Langkah korporasi ini dipandang sebagai upaya untuk meremajakan dinamika perdagangan dan meningkatkan likuiditas di Bursa Efek Indonesia. Dengan lebih banyak lembar saham beredar, investor menghadapi peluang kepemilikan yang lebih terjangkau dan aktivitas perdagangan yang lebih lancar.
Menurut Daniel Cahya, Direktur Keuangan DSSA, pemilihan stock split didorong oleh kebutuhan mengatasi harga saham yang relatif tinggi. Ia menekankan bahwa opsi ini dianggap sebagai langkah terbaik untuk mendorong partisipasi investor ritel. Manajemen berharap langkah ini juga memperkuat posisi DSSA di pasar modal nasional.
Harga saham DSSA sebelum split berada di sekitar Rp70.000 per lembar. Dengan rasio 1:25, estimasi harga pasca-split mendekati Rp2.800 per saham, sehingga satu lot (100 lembar) menjadi sekitar Rp280.000. Perubahan ini akan diberlakukan mulai pekan depan, Senin, 9 April 2026.
Pemecahan tersebut diproyeksikan meningkatkan jumlah saham beredar secara signifikan dan, akibatnya, likuiditas harian saham meningkat. Peningkatan likuiditas diharapkan memudahkan investor untuk masuk dan keluar posisi tanpa dampak harga besar. Selain itu, likuiditas yang lebih tinggi dapat menciptakan dinamika perdagangan yang lebih stabil.
Investor institusi dan asing memperhatikan perubahan porsi perdagangan publik. Saat ini, free float DSSA mencapai sekitar 20,4 persen dan sedang dianalisis terkait kepatuhan terhadap aturan baru minimal 15 persen. Dalam beberapa pembicaraan, manajemen menyatakan bahwa pengukuran free float akan terus diawasi bersama Bursa Efek Indonesia dan OJK.
Secara praktis, perubahan harga yang lebih terjangkau dapat menarik minat investor ritel dan memperluas basis pemegang saham. Harga baru sekitar Rp2.800 per saham menandai peluang bagi pembelian lewat satu lot dengan dana yang lebih rendah. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas perdagangan dan likuiditas jangka pendek.
DSSA adalah bagian dari indeks MSCI, sehingga perubahan kepemilikan publik dapat mempengaruhi aliran dana indeks dan minat investor asing pasif. Perubahan ini bisa menjadi katalis bagi perdagangan global yang lebih luas terhadap saham DSSA.
BEI dan OJK juga memantau implikasi kepatuhan terhadap aturan baru mengenai free float dan isu disclosure. Regulasi yang diantisipasi mencakup peningkatan ambang bebas float minimal menjadi 15 persen untuk emiten tertentu. Proses evaluasi dan konsultasi dengan regulator dijalankan untuk menjaga transparansi pasar.
Menurut tim analisis Cetro Trading Insight, langkah stock split DSSA berpotensi menjadi katalis investasi jangka menengah melalui peningkatan likuiditas sambil tetap menjaga fondamental perusahaan. Tim kami menilai bahwa ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka menengah yang siap memantau pergerakan harga setelah pembukaan perdagangan berikutnya. Namun tetap diperlukan pemantauan berkala terhadap perubahan struktur kepemilikan dan likuiditas.