DSSA resmi mengumumkan stock split 1:25 sebagai langkah strategis untuk meningkatkan likuiditas saham dan akses investor. Kebijakan ini memungkinkan lebih banyak saham beredar tanpa mengubah nilai total perusahaan. Dalam situasi pasar yang dinamis, langkah ini mendapat respons awal yang positif dari sebagian pelaku pasar.
Stock split efektif mulai 9 April 2026, dengan cum date pada 8 April. Rasio 1:25 berarti setiap saham lama akan digantikan dengan 25 saham baru, dengan nilai nominal turun dari Rp25 menjadi Rp1 per saham. Sebagai konsekuensinya, harga teoretis saham disesuaikan menjadi Rp2.680 per unit untuk mencerminkan aksi korporasi.
Penyesuaian harga teoretis, jumlah saham hasil stock split, dan perubahan parameter saham DSSA dilaporkan BEI melalui JATS. Harga teoretis menjadi pedoman tawar-menawar dan perhitungan Indeks Harga Saham (IHS) DSSA, serta menjadi dasar perdagangan di pasar reguler dan negosiasi. Meski harga teoretis dijadikan acuan, respons pasar bisa beragam tergantung sentimen investor dan likuiditas yang baru tercipta.
Beberapa hari menjelang aksi, DSSA masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) bersama Barito Renewables Energy (BREN) dalam kajian transparansi BEI. Konsentrasi kepemilikan yang tinggi menimbulkan kekhawatiran soal free float dan kemampuan indeks MSCI Indonesia Global Standard untuk direplikasi. Kondisi ini menambah fokus pelaku pasar pada likuiditas jangka menengah hingga panjang.
Analisis pasar menilai potensi arus dana keluar sekitar Rp7–8 triliun jika kedua saham itu keluar dari indeks MSCI, karena dana pasif global mengikuti bobot saham yang ada di indeks. Tekanan jual bisa meningkat saat proses rebalancing terjadi, terutama jika signifikan proporsi investor institusional berpindah. Namun, dampak aktual sangat bergantung pada respons investor global terhadap perubahan kepemilikan.
HSC adalah mekanisme yang pernah dipakai di berbagai pasar internasional, termasuk Hong Kong, sebagai respons terhadap investigasi MSCI terhadap struktur kepemilikan. Para analis menekankan bahwa HSC bisa mengurangi tekanan terhadap free float, namun juga menambah volatilitas karena keputusan indeks yang lebih sering berubah. Bagi DSSA dan BREN, dinamika ini berpotensi mempengaruhi minat investor internasional dan likuiditas saham menjelang keputusan MSCI.
Bagi investor, stock split ini membawa peluang nyata meningkatkan likuiditas saham, tetapi juga menimbulkan risiko terkait perubahan kepemilikan dan dinamika indeks. Aksi tersebut menjelaskan mengapa harga saham bisa berfluktuasi meski nilai perusahaan tidak berubah secara fundamental. Cetro Trading Insight menekankan perlunya pendekatan berhati-hati sambil menilai potensi manfaat jangka menengah.
Secara praktis, artikel ini berfokus pada faktor fundamental dan pergerakan pasar, sehingga sinyal trading tidak dapat ditarik secara definitif. Tim redaksi Cetro Trading Insight menganjurkan konfirmasi lebih lanjut melalui analisis teknikal yang terverifikasi sebelum mengambil posisi. Investor disarankan menimbang risiko reward yang layak jika ingin memasuki pasar, terutama menghadapi potensi arus keluar terkait MSCI.
Langkah konkrit untuk investor termasuk memantau status HSC, rebalancing MSCI, serta perubahan likuiditas pasca stock split. Gunakan pendekatan diversifikasi dan evaluasi portofolio secara berkala agar paparan terhadap volatilitas berubah sesuai dengan profil risiko. Cetro Trading Insight siap membantu dengan update analisis dan insight pasar untuk memahami pergeseran ini secara komprehensif.