Indeks Dolar AS melemah sekitar 98,15 pada sesi Asia, menandai nada yang lebih lembut bagi USD. Pergerakan ini terjadi di tengah fokus investor pada dinamika kebijakan dan arah suku bunga. Pasar tetap waspada terhadap potensi perubahan sentimen yang bisa memicu volatilitas di pasar mata uang.
Kekhawatiran soal independensi The Fed di bawah pemerintahan saat ini meningkatkan tekanan terhadap dolar. Investor menimbang risiko bahwa kepemimpinan bank sentral bisa berujung pada kebijakan yang lebih dovish. Kritik terhadap respons kebijakan Powell pada penurunan suku bunga menambah tekanan bagi dolar.
Analis menilai bahwa risiko kebijakan moneter masih condong ke arah dovish dalam jangka menengah. Beberapa strategi pasar melihat perubahan kepemimpinan The Fed sebagai faktor utama yang bisa memperkuat tekanan pada DXY. Meski demikian volatilitas tetap tinggi karena dinamika geopolitik dan data ekonomi yang beragam.
Pasar memperkirakan dua pemotongan suku bunga pada tahun ini, dibandingkan satu yang diprediksi oleh The Fed sendiri. Perbedaan ini menambah risiko bagi USD jika pelonggaran kebijakan menjadi kenyataan. Pelaku pasar menimbang bagaimana data ekonomi akan membentuk narasi kebijakan di sisa tahun ini.
Alat CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 15 persen untuk penurunan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Angka ini menunjukkan bahwa pasar masih mengantisipasi kejutan kebijakan sambil menilai langkah The Fed selanjutnya. Risiko volatilitas tetap ada karena dinamika komunikasi pejabat bank sentral dan data ekonomi.
Laporan data utama yang akan dirilis meliputi Nonfarm Payrolls dan tingkat pengangguran. Jika data tenaga kerja menunjukkan hasil lebih kuat dari ekspektasi, hal itu bisa membatasi penurunan DXY dalam jangka pendek. Namun angka yang lemah berpotensi menambah tekanan pada dolar dan mengubah ekspektasi kebijakan di 2026.
Bagi trader, dinamika ini menciptakan peluang pada instrumen USD index dengan fokus pada arah kebijakan dan data tenaga kerja. Mereka dapat mempertimbangkan posisi jual pada DXY jika tekanan fundamental berlanjut dan konfirmasi teknikal mendukung. Namun potensi pembalikan tetap ada jika data menunjukkan kekuatan ekonomi yang lebih besar dari ekspektasi.
Dari sisi teknikal, strategi trading perlu memperhitungkan volatilitas dan likuiditas yang terkait rilis data ekonomi. Strategi jual bisa dipertimbangkan jika outlook kebijakan tetap dovish dan data tenaga kerja cenderung melemah, sambil memantau level teknikal yang relevan sebagai konfirmasi.
Manajemen risiko menjadi prioritas dengan target rasio risiko terhadap imbalan minimal 1 banding 1,5. Rencana entry sekitar 98,15 dengan take profit di 96,65 dan stop loss di 98,90 memberi ruang untuk kejutan pasar sambil menjaga eksposur risiko tetap terkendali. Selalu perbaharui rencana sesuai perkembangan data ekonomi dan kejadian pasar.