
Indeks dolar AS (DXY) rebound meningkat seiring kebuntuan geopolitik antara AS dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Para investor terus mencari perlindungan di aset yang dianggap aman ketika risiko geopolitik meningkat. Pada penulisan ini, DXY diperdagangkan sekitar level 101.18 mendekati tertinggi satu minggu, mencatat lonjakan yang signifikan sejak awal pekan.
Presiden AS, Donald Trump, menunjukkan sikap tegas dengan menolak peluang dialog hingga Tehran bersedia. Ia menyatakan bahwa Iran ingin bertemu, namun dia menyatakan tidak tertarik pada pembicaraan saat ini. Ancaman untuk menargetkan situs terkait program nuklir meningkatkan ketidakpastian dan memperluas risiko eskalasi.
Peperangan udara berlanjut dengan serangan pada malam ke sepuluh secara berturut-turut, sementara Iran meluncurkan serangan terhadap aset militer AS di wilayah tersebut. Pergeseran sentimen pasar meningkat karena investor menilai kemungkinan gangguan pasokan energi dan volatilitas yang lebih tinggi. Analis menilai bahwa eskalasi geopolitik dapat menguatkan dorongan bagi dolar jika ketegangan terus memburuk.
Harga minyak yang rebound menambah tekanan pada Federal Reserve untuk mempertahankan sikap kebijakan yang ketat. Kenaikan biaya energi memicu kekhawatiran inflasi dan menambah beban pada prospek pemulihan ekonomi global. Pasar menafsirkan bahwa inflasi lebih tinggi bisa membuat bank sentral menunda pelonggaran kebijakan.
Analis ING memperingatkan bahwa risiko terhadap dolar masih berat ke arah kenaikan hari ini, meskipun pasar berada dalam mood berhati-hati terhadap eskalasi militer. Mereka memperkirakan pergerakan kembali mendekati 101.50 sebagai kemungkinan yang selaras dengan latar belakang pasar saat ini. Ketidakpastian geopolitik membentuk landasan untuk pergerakan dolar yang lebih luas.
OCBC menyoroti bahwa eskalasi yang lebih luas berpotensi memicu gangguan pasokan minyak dan mendorong harga ke level lebih tinggi dari USD100 per barel. Menurut pandangan mereka, potensi tersebut bisa meningkatkan volatilitas pasar, mengurangi daya tarik carry trades, dan mendukung sentimen kuat terhadap dolar.
Risiko inflasi yang terkait dengan harga minyak memperkuat argumen bagi Fed untuk menjaga kebijakan lebih ketat hingga inflasi kembali mendekati target 2%. Para ekonom memperkirakan jalur kebijakan akan tetap tegas dalam jangka pendek meskipun pertumbuhan ekonomi masih terus dipantau. Narasi kebijakan tighter for longer menjadi bagian penting dari penilaian pasar.
Survei Reuters menunjukkan bahwa semua 104 ekonom yang menjawab memproyeksikan Fed akan menahan suku bunga pada kisaran 3,50% hingga 3,75% pada rapat 28–29 Juli. Dari data lain, 78 ekonom menilai tidak ada perubahan hingga akhir tahun. Sebagai catatan, 44 dari 67 ekonom menyatakan risiko kenaikan suku bunga tinggi meski tren bulan sebelumnya cenderung surut.
Rilis data ekonomi dan komentar pejabat bank sentral memperlihatkan bahwa volatilitas pasar bisa tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Investor terus menimbang bagaimana dinamika geopolitik dan perubahan harga minyak akan mempengaruhi perdagangan global serta aliran modal saat ini. Dengan demikian, sentimen investor tetap rapuh dan respons pasar terhadap risiko bisa berubah cepat.