
TD Securities memperkirakan Federal Reserve akan menjaga suku bunga dana federal tetap tidak berubah sepanjang 2026, karena inflasi masih berada di atas target dan pasar tenaga kerja menunjukkan stabilitas. Perspektif ini menempatkan kebijakan moneter di jalur yang lebih berhati-hati. Dengan demikian, perubahan arah kebijakan di tahun ini lebih mungkin berupa kenaikan daripada pemotongan jika diperlukan.
Analisis mereka menyoroti bahwa Fedspeak tetap beragam menjelang rilis data utama, dan bahwa respons kebijakan akan lebih bergantung pada data ketimbang petunjuk formal. Dalam skenario 2024-2026, jika ada pergeseran kebijakan, kenaikan suku bunga diperkirakan lebih besar daripada pemotongan.
Mereka juga memperkirakan CPI inti akan menurun secara bertahap, dengan proyeksi 2,6% year-on-year di kuartal keempat 2026. Ini menjadi sinyal bahwa jalur kebijakan bisa tetap pada hold untuk periode tertentu, meskipun risiko inflasi tetap ada.
Rilis CPI Juni menunjukkan angka yang jauh lebih lemah dari perkiraan, menandakan inflasi inti belum berada pada jalur yang menurun. Data ini menambah ruang bagi Fed untuk menahan kebijakan dalam jangka pendek sambil menilai dinamika harga lebih lanjut.
Fedspeak sebelum periode blackout menampilkan nuansa kebijakan yang campur aduk. Ketua Warsh menggambarkan CPI terakhir sebagai berita baik, tetapi inflasi belum selesai, sementara para pejabat lain menunjukkan sikap yang berbeda terkait arah kebijakan.
Dengan inflasi yang diperkirakan tetap tinggi sepanjang sisa tahun dan pasar tenaga kerja yang stabil, fokus Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan beralih pada mandat inflasi. Jika data menunjukkan kejutan pada CPI, kemungkinan langkah kebijakan akan lebih mengarah ke kenaikan daripada pemangkasan.
Situasi ini menempatkan pelaku pasar pada posisi mengevaluasi dampak kebijakan terhadap pasangan mata uang utama, logam mulia, dan aset berisiko. Hold Fed menciptakan peluang bagi beberapa sektor untuk menata ulang ekspektasi risiko dan imbal hasil.
Untuk trader, hasil kebijakan hold perlu dipadukan dengan pemantauan data inflasi dan dinamika tenaga kerja. Volatilitas bisa mereda sementara, namun risiko kejutan data tetap muncul jika inflasi tidak melunak sesuai ekspektasi.
Dalam kerangka trading, pendekatan fundamental dengan manajemen risiko yang disiplin direkomendasikan. Rasio reward-to-risk minimal 1:1.5 bisa dicapai melalui alokasi posisi yang terdiversifikasi dan penggunaan stop-loss yang tepat.