DXY Terbatas di Kisaran 96–100: Analisis BBH, Fed, dan PCE AS Menjelang Data

DXY Terbatas di Kisaran 96–100: Analisis BBH, Fed, dan PCE AS Menjelang Data

trading sekarang

Laporan dari BBH menunjukkan DXY tetap terkunci dalam kisaran 96.00 hingga 100.00 karena perbedaan suku bunga antara AS dan mitra utama. Optimisme terkait gencatan senjata meredup karena keraguan mengenai kepatuhan pihak terkait. Dalam konteks ini, pandangan jangka menengah terhadap USD tetap bearish meskipun fase pasar mencoba menahan arah pergerakan.

Haddad menegaskan bahwa satu potongan suku bunga 25 basis poin oleh Federal Reserve diperkirakan terjadi pada akhir tahun. Data PCE Februari dianggap tidak akan mengubah ekspektasi penurunan suku bunga secara material. Kredense terhadap langkah kebijakan menjadi alasan mengapa DXY tetap tertekan meskipun volatilitas sesekali muncul.

Para trader dianjurkan memantau rilis PCE Februari yang dijadwalkan hari ini pada waktu London dan New York. Meski angka inflasi terlihat melandai, gambaran kebijakan tetap dipandu oleh dinamika tenaga kerja dan pembiayaan publik AS. Secara teknikal, pergerakan DXY kemungkinan akan tetap bersandar pada perbedaan suku bunga antarmuka ekonomi utama.

Brent crude naik sekitar 8 persen setelah saat ini turun mendekati level terendah satu bulan di sekitar 90.40 per barel. Pergerakan harga minyak ini mempengaruhi harapan inflasi dan persepsi risiko bagi tahun berjalan. Kenaikan energi juga menambah dinamika pada ekspektasi kebijakan moneter global.

Rally di pasar ekuitas dan obligasi sempat bergerak, tetapi momentumnya kehilangan arah; lebih tepatnya DXY memantul setelah menguji rata-rata pergerakan 200 hari. Pergerakan ini mencerminkan keseimbangan pasar antara optimisme politik dan risiko fiskal AS yang berkelanjutan. Para pelaku pasar menilai sinyal kebijakan yang dihasilkan dari pertemuan bank sentral.

Inti dari pembacaan BBH adalah bahwa perbedaan suku bunga tetap menjadi penentu utama arah DXY di kisaran saat ini. Kepercayaan terhadap kredibilitas fiskal AS menurun, dan dinamika konflik di Timur Tengah menambah risiko bagi rencana kebijakan. Dengan faktor-faktor tersebut, prospek mata uang AS tetap tertahan dan peluang pergerakan besar di jangka pendek terlihat rendah.

broker terbaik indonesia