Di tengah guncangan industri MICE akibat efisiensi anggaran pemerintah dan dinamika ekonomi global, Dyandra Media International Tbk mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 66,30 persen pada 2025. Angka ini menandai salah satu topografi laba yang paling berubah di sektor event, namun perusahaan menegaskan kemampuan adaptasi untuk menjaga momentum. Dalam laporan analitis ini, kami dari Cetro Trading Insight menyajikan gambaran rinci yang jelas bagi para pemangku kepentingan.
Pendapatan 2025 turun 16,55 persen menjadi Rp1,21 triliun dibandingkan 2024 sebesar Rp1,45 triliun. Kontributor utama pendapatan tetap berasal dari segmen event dan penyelenggara pameran dengan Rp977,6 miliar atau 80 persen dari total. Sementara kontributor lain seperti bisnis convention and exhibition hall menyumbang Rp152,9 miliar (12 persen), hotel Rp55,8 miliar (5 persen), dan pendukung event Rp38,8 miliar (3 persen).
Secara aset, total DYAN mencapai Rp1,257 triliun pada akhir 2025, dengan aset lancar Rp625,7 miliar dan aset tidak lancar Rp630,9 miliar. Liabilitas total tercatat Rp533,4 miliar, naik sekitar 0,6 persen dibanding 2024. Meski demikian, Direktur Utama Daswar Marpaung optimistis kinerja kuartal pertama 2026 akan pulih berkat rangkaian event besar yang telah digelar melalui Dyandra Promosindo.
Prospek 2026 didorong oleh beberapa event besar yang telah diselenggarakan di awal tahun. IIMS dan IFEX disebut sebagai indikator utama reputasi Dyandra di industri MICE tanah air, menambah kepercayaan terhadap aliran pendapatan di masa mendatang.
Dyandra Group memiliki lebih dari 11 IP event, termasuk IIMS, IFEX, Indowood Expo, Projek D, Deep Extreme Indonesia, Sunset di Kebun, Sunset di Pantai, FLOII, Halal Indo, Jakarta International Pet Show, Indonesia Women Fest, dan lainnya. Portofolio ini memberikan peluang diversifikasi pendapatan meski pasar menghadapi volatilitas.
Strategi ke depan menekankan pemanfaatan IP event, menjaga kapasitas pelaksanaan, serta memperluas kemitraan agar arus kas tetap sehat. Namun investor perlu mewaspadai risiko ekonomi global dan pengaruh kebijakan anggaran terhadap permintaan acara besar yang menjadi motor utama kinerja perseroan.