
Menurut Radhika Rao dari DBS Group Research, pasar eurozone menghadapi kejutan stagflasi yang dipicu oleh ketegangan antara AS dan Iran. Efek geopolitik ini diperkirakan akan lebih terasa di Eropa ketimbang Amerika, sehingga ECB diposisikan untuk menimbang pengetatan kebijakan lebih awal. Analisis tersebut menyoroti bagaimana dinamika tersebut bisa menggerakkan volatilitas mata uang dan obligasi di wilayah euro. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Rao memperkirakan kenaikan deposit rate sebesar 25 basis poin menjadi 2.25 pada pertemuan 11 Juni. Ia juga menekankan bahwa pedoman kebijakan akan tetap berhati-hati meski tetap menunjukkan sikap hawkish. Konteks geopolitik, dengan potensi gencatan senjata AS Iran yang terjadi, bisa memoderasi lintasan pengetatan tergantung data masuk.
Penurunan proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi sekitar 1.0 dan inflasi lebih tinggi dari ekspektasi menjadi bagian dari skenario baseline ECB. Selain asumsi harga minyak sekitar 90 per barrel dan gas 50 euro per MWh pada kuartal kedua 2026, ECB juga menyajikan skenario buruk dan berat. Dengan demikian kebijakan moneter kemungkinan akan menajam sejalan dengan perkembangan data ekonomi dan dinamika geopolitik.
Kebijakan ECB diperkirakan front loaded, dipicu kekhawatiran stagflasi yang lebih besar di Eropa serta perlu menjaga stabilitas harga. Rao menekankan tindakan ini sebagai bentuk asuransi untuk menahan tekanan harga dan pertumbuhan yang rapuh. Pasar akan menilai langkah tersebut dengan hati hati karena dampaknya terhadap likuiditas dan ekspektasi mata uang.
Penelitian ini menekankan bahwa ECB akan mengawasi kemungkinan berlanjutnya gencatan senjata AS Iran, sehingga pendekatan kebijakan bisa dilakukan dari pertemuan ke pertemuan. Nada komunikasi dijelaskan sebagai berhati hati namun tetap hawkish, menekankan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan jika data inflasi berubah. Pergerakan harga energi menjadi faktor penentu utama dalam kemauan ECB untuk memperbarui panduan.
Rao menyinggung bahwa baseline, adverse, dan severe scenario sudah dipetakan ECB pada Maret, dengan implikasi berbeda terhadap inflasi dan pertumbuhan. Dalam kerangka ini, prospek 2026 bergantung pada dinamika energi dan ketegangan geopolitik yang bisa berubah sewaktu-waktu. Bagi trader, fokuslah pada rekomendasi kebijakan yang bisa berubah sesuai data dan sinyal pasar di tiap pertemuan.
Proyeksi 2026 menunjukkan pertumbuhan zona euro turun menjadi sekitar 1.0% sementara inflasi tetap lebih tinggi dari ekspektasi awal. Asumsi harga minyak sekitar 90 per barrel dan gas 50 euro per MWh pada kuartal kedua 2026, yang kemudian moderat, membentuk kerangka kebijakan ECB. Kondisi ini menekankan bahwa jalur pengetatan bisa berlanjut jika tekanan harga tetap tinggi.
Risiko energi dapat memicu respons berbeda di pasar tergantung bagaimana pasokan dan permintaan menyeimbangkan. Sentimen investor bisa meningkat jika ECB dianggap bertindak lebih tegas, meski jalur kebijakan tetap sensitif terhadap data inflasi dan geopolitis. Dalam konteks EURUSD, volatilitas bisa meningkat karena faktor kebijakan dan dinamika energi.
Sebagai rekomendasi perdagangan, peluang long EURUSD tetap relevan jika indikator kebijakan ECB menunjukkan sikap hawkish. Level pembukaan diperkirakan sekitar 1.0900 dengan target 1.0975 dan stop 1.0860 untuk menjaga rasio risiko-imbalan di atas 1:1.5. Trader juga perlu memantau kalender rapat ECB dan rilis data inflasi untuk konfirmasi arah.