
EURUSD berada dekat level dua bulan terendah setelah ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Pasar memperkirakan Deposit Facility Rate menjadi 2.25% sebagai langkah untuk mengendalikan inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak. Keputusan ECB diimbuhi oleh proyeksi inflasi yang masih menjadi risiko bagi outlook euro area.
Bank sentral menegaskan tidak ada jalur kenaikan yang tetap, menekankan bahwa risiko inflasi masih ke atas meski pertumbuhan agak lemah. Proyeksi Eurosystem menunjukkan inflasi headline 3.0% untuk 2026, 2.3% untuk 2027, dan 2.0% untuk 2028, dengan revisi ke atas untuk 2026 dan 2027. Kebijakan ECB mencerminkan kehati-hatian dalam menyeimbangkan risiko tersebut.
Secara teknikal, EURUSD gagal memanfaatkan keputusan ECB untuk menguat karena dolar AS mendapat dukungan dari faktor geopolitik. Indeks DXY menguat di atas 100 meski pergerakan masih sempit, menandakan preferensi pelaku pasar pada aset safe-haven. Para trader dianjurkan memantau level kunci di sekitar 1.15 untuk potensi breakout.
Ketegangan di Timur Tengah menjaga sentimen risiko global tetap lemah dan mendukung dolar AS. Investor menimbang dampak jangka pendek terhadap likuiditas pasar serta volatilitas mata uang utama. Dalam konteks ini, EURUSD cenderung terbatas pada kisaran rendah karena dolar didorong oleh faktor geopolitik.
Ancaman terbaru dari Presiden AS terhadap Iran menambah dinamika geopolitik yang mendukung dolar. Sinyal tindakan militer dan potensi sanksi terhadap infrastruktur minyak memperkuat permintaan terhadap dolar sebagai aset perlindungan. Secara teknikal, DXY bergerak di sekitar level psikologis 100 dan membantu mata uang utama tetap kuat.
Di sisi fundamental, data AS menunjukkan adanya tekanan inflasi yang membentuk ekspektasi kebijakan moneter. Producer Price Index Mei naik 6.5% YoY, sedikit di atas konsensus. Core PPI turun menjadi 4.9% dari 5.4%, menunjukkan pendinginan pada komponen inti meskipun tekanan secara keseluruhan masih ada.
Data PPI Mei menunjukkan dinamika harga produksi yang kuat dengan tonase tekanan yang tinggi. Kenaikan 6.5% YoY menguatkan argumen bahwa bank sentral mungkin mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Namun data inti yang melemah ke 4.9% dari 5.4% menandakan perlambatan bias inflasi inti.
Implikasi bagi kebijakan Federal Reserve adalah jeda dalam penurunan tempo kenaikan suku bunga, dengan fokus pada bagaimana inflasi berperilaku ke depan. Pasar memandang bahwa laju suku bunga kemungkinan tetap tinggi untuk waktu yang lebih panjang. Sentimen ini mempengaruhi aliran modal ke aset dolar dan pasangan mata uang utama.
Kesimpulannya, investor menantikan konfirmasi lebih lanjut dari data inflasi berikutnya untuk mengira-ngira arah kebijakan. Jika tekanan inflasi tetap tinggi, dolar bisa menjaga performa posisinya terhadap euro. Trader disarankan untuk menanti breakout pada level penting, dengan fokus pada risiko dan manajemen posisis.