Ekonomi Malaysia Tumbuh 5.2% di 2025, Prospek 2026 Diperkirakan 4.5% dengan Dorongan AI

trading sekarang

Laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB Malaysia mencapai 5.2% pada 2025, melanjutkan laju positif yang tercatat 5.1% di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh dorongan permintaan domestik yang tetap kuat, tambahannya lewat investasi terkait kecerdasan buatan, dan kebijakan moneter yang masih mendukung iklim investasi. Kinerja positif ini menambah kepercayaan pelaku pasar bahwa fondasi domestik tetap kokoh meski ada ketidakpastian global.

Analisis menyatakan bahwa kontribusi sektor swasta dan ekspansi layanan digital turut membantu momentum pertumbuhan. Meski ada risiko perdagangan global akibat tarif yang diberlakukan AS, dinamika domestik tetap mendominasi arah ekonomi. Performa kuartal keempat 2025 juga menunjukkan daya tahan yang lebih tinggi dari ekspektasi awal, menegaskan profil pertumbuhan yang lebih resilient.

Secara komparatif, angka 2025 lebih kuat daripada proyeksi sebelumnya dan menunjukkan bahwa kebijakan fiskal dan moneter tetap berada pada jalur pendukung. Namun, ada catatan penting bahwa inflasi tetap relatif jinak dan tantangan eksternal bisa membatasi langkah kebijakan dalam beberapa kuartal ke depan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight dengan bantuan AI dan direview editor untuk menjaga akurasi.

Untuk 2026, para analis memperkirakan pertumbuhan sekitar 4.5%, sedikit di atas rentang proyeksi pemerintah sebesar 4.0–4.5%. Penurunan ini dipandang wajar karena front-loading aktivitas kemungkinan menurun dan dampak tarif yang tertunda mulai mereda. Meski demikian, dinamika internal masih mendukung prospek yang lebih stabil dibandingkan beberapa negara tetangga.

Di sisi lain, ada upside risk terkait permintaan yang didorong AI tetap kuat serta sentimen domestik yang positif. Jika faktor-faktor tersebut bertahan, potensi peningkatan pertumbuhan bisa muncul meski ada tekanan eksternal dari pasar global. Analisis ini menekankan pentingnya menjaga struktur kebijakan yang fleksibel untuk merespons perubahan cepat di pasar keuangan.

Selain faktor permintaan, pergeseran harga energi dan stabilitas tarif global dapat mengurangi tekanan inflasi. Kondisi ini meningkatkan ruang bagi otoritas kebijakan untuk menilai arah kebijakan dalam 1–2 kuartal ke depan tanpa perlu pengetatan agresif. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi investor yang fokus pada likuiditas dan stabilitas ekonomi Malaysia.

Bank Negara Malaysia (BNM) diperkirakan menjaga suku bunga tidak berubah dalam jangka pendek karena inflasi yang terkontrol dan ketidakpastian eksternal yang membatasi ruang pergerakan kebijakan. Kebijakan moneter yang stabil berpotensi mendukung kelancaran pendanaan bagi perusahaan serta menjaga daya saing mata uang terhadap mitra dagang utama.

Secara fiskal, pertumbuhan yang solid memberikan ruang bagi pemerintah untuk menavigasi risiko eksternal tanpa perlu respons kebijakan besar. Para analis menekankan bahwa kebijakan yang stabil dapat meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga arus modal jangka panjang ke dalam pasar lokal, termasuk ekuitas dan obligasi korporasi berkualitas.

Terakhir, beberapa laporan menyoroti kemungkinan pengurangan langkah pemotongan pre-emptive Juli 2025 jika kondisi inflasi tetap jinak. Walau demikian, skenario ini sangat bergantung pada evaluasi pertumbuhan dan dinamika pasokan global dalam kuartal-ke-kuartal mendatang. Laporan ini menegaskan tingkat kewaspadaan terhadap perubahan eksternal sambil mempertahankan fokus pada stabilitas harga dan pertumbuhan berkelanjutan.

broker terbaik indonesia