
Fenomena El Niño yang kuat mampu merombak peta harga crude palm oil (CPO) secara drastis, memicu lonjakan volatilitas di pasar komoditas global. Ketika cuaca kering menggulung produksi, peluang bagi produsen dan investor meningkat seiring spektrum risiko yang meluas. Cetro Trading Insight memantau dinamika ini dengan saksama untuk memberi pembaca gambaran jelas tentang arah harga ke depan. Analisis cuaca ekstensif dan data produksi menunjukkan potensi perubahan kurva pasokan dalam beberapa kuartal mendatang.
Cuaca kering akibat El Niño secara historis menekan produksi minyak sawit, sehingga pasokan menjadi lebih ketat di masa depan. Hal ini diperkirakan akan menopang harga seiring meningkatnya permintaan ekspor dan potensi konsumsi biodiesel di Indonesia. Jeda biologis dalam siklus produksi saat ini menambah faktor risiko pada estimasi output TBS (tandan buah segar) di tahun mendatang.
Analisa dari MBSB Research dan AmInvestment Bank menyoroti El Niño yang berpotensi kuat sebagai katalis tambahan bagi harga CPO. Mereka menilai cuaca kering yang menyertai El Niño dapat menekan pasokan, meski dukungan dari harga minyak nabati global dan permintaan domestik tetap menjadi pendorong utama. Price action di Bursa Malaysia Derivatives pun menunjukkan adanya tekanan pada level-resistant tertentu sambil menjaga peluang pergerakan ke atas jika sentimen membaik.
| Level teknikal | Harga (RM/ton) |
|---|---|
| Resistance | 4,630 |
| Support | 4,520 |
Harga pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives tercatat naik 28 ringgit menjadi 4.596 ringgit per ton pada Senin pagi, menandai respons positif terhadap suasana pasar. Sentimen ini sebagian didorong oleh ekspektasi permintaan ekspor dan peningkatan konsumsi biodiesel di pasar domestik. Analis menilai pergerakan ini bisa menjadi pijakan bagi pergerakan lebih lanjut jika harga menembus level resistance utama.
Sejalan dengan itu, beberapa saham emiten sawit melanjutkan reli pada Senin pagi. BWPT naik sekitar 4,05% ke Rp77 per saham, diikuti AALI yang menguat 2,13% ke Rp6.000. Sementara SIMP, DSNG dan LSIP juga mencatat kenaikan tipis, menguat di kisaran 0,7-0,9% pada perdagangan sesi tersebut.
Namun tidak semua saham sektor sawit bergerak positif. SSMS turun 0,67%, TAPG melemah 1,32%, dan NSSS terkoreksi 2,70%. Disclaimer: keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor, dan fluktuasi harga dapat terjadi seiring perubahan sentimen pasar serta dinamika cuaca di masa depan.