
EUR/USD turun ke level terendah dua bulan setelah payroll AS melampaui ekspektasi. Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan penambahan 172 ribu pekerjaan pada bulan Mei, jauh melebihi konsensus 85 ribu. Revisi payroll April juga meningkat menjadi 179 ribu dari 115 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap di 4.3%. Pergerakan ini menambah tekanan bagi pasangan mata uang utama yang sensitif terhadap kebijakan moneter, terutama sentimen risiko global yang berputar di sekitar data itu.
DXY menguat ke sekitar 99.80 setelah sempat menyentuh 99.16 di sesi Eropa. Kenaikan ini menambah tekanan pada EURUSD karena pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan yang restriktif. Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak 8 basis poin menjadi 4.53% untuk hari tersebut, memberi dukungan tambahan bagi dolar. Data ini memperkuat narasi bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat bisa bertahan lebih lama, terutama jika inflasi tetap tinggi.
Menurut forecast CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan Fed akan menjaga kisaran 3.50% hingga 3.75% dalam beberapa bulan ke depan, dengan peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan Desember sekitar 42%. Pasar juga menafsirkan bahwa tekanan harga minyak yang lebih tinggi berpotensi mempertahankan dinamika inflasi yang lebih tinggi. Para analis di Cetro Trading Insight menilai sentimen ini menambah volatilitas pada pasangan EURUSD sambil menunggu data ekonomi selanjutnya.
Eurozone menunjukkan tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kekhawatiran stagflasi menjelang pertemuan kebijakan ECB. Data pertumbuhan terbaru mengindikasikan perlambatan aktivitas produksi dan jasa di beberapa negara anggota. Dalam konteks ini, investor menatap rapat ECB dengan kekhawatiran bahwa inflasi tetap tinggi meski pertumbuhan melambat.
Pembuat kebijakan di blok mata uang tunggal dihadapkan pada dilema antara menahan inflasi dan mendukung pertumbuhan, terutama karena biaya energi yang melonjak. Sinyal yang keluar dari pasar energi menambah tekanan untuk menaikkan suku bunga, namun langkah tersebut dapat memperburuk dinamika ekonomi nyata di zona euro. Oleh karena itu, ECB kemungkinan perlu menyeimbangkan kebijakan untuk menjaga stabilitas harga sambil menghindari kontraksi pertumbuhan lebih lanjut.
Pasar menunggu keputusan kebijakan ECB yang diprediksi akan mengisyaratkan kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang, meski ada risiko kejutan terhadap rencana tersebut. Para analis mencatat bahwa jalur kebijakan bisa berbeda antar negara anggota, tergantung data inflasi dan pertumbuhan masing-masing. Secara keseluruhan, suasana pasar tetap rentan terhadap angka inflasi minyak dan dinamika fiskal global.
Investor forex menghadapi volatilitas lebih tinggi karena respons pasar terhadap data tenaga kerja AS, kebijakan Fed, dan dinamika ECB. Pergerakan EURUSD dapat dipicu oleh kejutan data nonfarm payrolls, komentar pejabat bank sentral, dan reaksi pasar terhadap spekulasi suku bunga. Mulai dari penurunan harga minyak hingga pergeseran ekspektasi inflasi, semua faktor ini menambah kepresisan bagi pasangan mata uang utama.
Pelaku pasar disarankan memperhatikan rilis data AS berikutnya dan arah kebijakan Fed, karena ini akan menentukan arah EURUSD dalam beberapa minggu ke depan. Hedging dan manajemen risiko menjadi penting saat volatilitas meningkat, terutama di tengah ketidakpastian antara risiko inflasi dan pertumbuhan. Strategi yang disarankan melibatkan alokasi terbatas pada posisi berisiko sambil memanfaatkan peluang pada pergerakan jangka pendek.
Secara umum, rekomendasi jangka pendek adalah menilai sinyal dari kedua bank sentral dan data ekonomi utama. Market participants bisa mempertimbangkan pendekatan defensif jika volatilitas meningkat, sambil tetap mengikuti arah utama yang ditentukan oleh data tenaga kerja AS dan kebijakan ECB. Hasil akhirnya akan ditentukan oleh keseimbangan antara kekuatan dolar yang sedang berkembang dan risiko bagi euro di tengah tekanan energi dan inflasi.