EUR/USD menguat meskipun aliran safe-haven meningkat terkait ketidakpastian AS-Greenland. Pergerakan ini mencerminkan keseimbangan antara sentimen risiko dan permintaan likuiditas di pasar. Investor tetap mengamati berita mengenai potensi langkah AS terhadap beberapa negara Eropa yang mengekploitasi keprihatinan geopolitik tersebut.
Kenaikan pada pasangan yang sensitif terhadap risiko ini mungkin tetap terbatas di tengah meningkatnya permintaan safe-haven. Analis juga menyoroti bahwa gejolak geopolitik dapat membatasi reli jangka pendek meski beberapa faktor teknikal mendukung pergerakan harga. Pelaku pasar menilai bahwa berita tarif dan reaksi Uni Eropa bisa menjadi bidangan volatilitas, tanpa arah yang konsisten.
Menurut laporan terbaru, Trump menyatakan ia akan mengenakan tarif 10% pada barang-barang dari delapan negara UE yang menentang proposalnya terkait Greenland. Pemerintah AS dan negara anggota UE sedang berunding untuk menahan dampak tarif tersebut, namun ketidakpastian tetap tinggi. Di sisi lain, beberapa pedagang menilai respons pasar masih dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan Fed dan perkembangan data tenaga kerja, yang bisa menggeser arus modal.
Dolar AS berpotensi menguat lagi seiring data tenaga kerja AS yang kuat yang menunda ekspektasi potongan suku bunga Fed hingga Juni. Data pekerjaan yang solid meningkatkan pandangan bahwa inflasi belum cukup terlihat untuk pelonggaran besar. Hal ini memberi Federal Reserve fleksibilitas untuk menilai kelanjutan perjalanan kebijakan tanpa tekanan untuk mengubah jalannya secara mendesak.
Para pejabat Fed telah menekankan perlunya bukti inflasi yang berkelanjutan mendekati target 2% sebelum menimbang pelonggaran lebih lanjut. Sinyal ini memperkirakan jalur kebijakan yang lebih hati-hati di tengah volatilitas pasar. Dalam laporan terbaru, Morgan Stanley juga merevisi prospek 2026 dengan satu pemotongan suku bunga pada Juni diikuti oleh pemotongan pada September, berbeda dari ekspektasi awal Januari dan April.
Bagaimana hal ini mempengaruhi EUR/USD? Para pelaku pasar akan memperhatikan rilis data tenaga kerja, inflasi, dan komentar bank sentral yang dapat memperbesar volatilitas. Membangun strategi manajemen risiko menjadi kunci karena volatilitas bisa meningkat menjelang keputusan kebijakan. Investor disarankan untuk menjaga eksposur sesuai level risiko dan memperhatikan berita perdagangan global yang bisa memicu pergeseran arah.