EUR/USD Rebound di Tengah Harga Minyak Turun: Analisis Pesole dan Tantangan Energi

EUR/USD Rebound di Tengah Harga Minyak Turun: Analisis Pesole dan Tantangan Energi

trading sekarang

Francesco Pesole dari ING menilai EUR/USD telah kembali ke kisaran atas 1.140 seiring melorotnya harga minyak. Meski angka-angka teknikal menunjukkan perbaikan, ia menekankan bahwa belum terlihat jalur deeskalasi konflik geopolitik secara nyata. Pasar tetap berhati-hati karena volatilitas geopolitik bisa membatasi upside pasangan mata uang tersebut.

Penurunan harga minyak memberi dorongan jangka pendek bagi eurusd, namun konteks fundamental tetap berat. Dolar AS masih mendapatkan dukungan dari preferensi safe-haven dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang berbeda dengan ECB. Investor menantikan data makro Eurozona untuk menambah pijakan dukungan domestik terhadap momentum rebound ini.

Pesole menambahkan bahwa harga gas Eropa yang tinggi menjadi faktor penghambat bagi kekuatan euro meskipun minyak turun. Tanpa langkah deeskalasi yang jelas, potensi volatilitas di sekitar level 1.1380–1.1400 tetap relevan. Bahkan, jika terjadi aksi militer baru, Brent bisa kembali ke sekitar 100 dollar per barel yang bisa menekan EUR/USD lebih lanjut.

FaktorImplikasi
Minyak turunMemberi dukungan jangka pendek pada EUR/USD namun masih dibatasi oleh risiko geopolitik
Gas Eropa tinggiMenekan term of trade euro dan membatasi pergerakan ke atas EUR/USD
Risiko geopolitikPotensi volatilitas meningkat jika eskalasi militer berlanjut

Harga gas di Eropa tetap tinggi meskipun minyak bergerak lemah, dengan TTF dikisaran €58/MWh dan mendekati level tertinggi sekitar Maret. Kondisi ini menambah tekanan pada neraca energi zona euro serta biaya impor yang berperan sebagai penggerak utama nilai tukar euro. Secara keseluruhan, tenaga energi menjadi penentu utama arah jangka menengah EUR/USD.

Ketergantungan pada energi impor meningkatkan risiko terhadap euro terms of trade. Meski harga Brent tak berada di puncak, volatilitas minyak dan biaya gas nyatanya menjaga EUR/USD berada pada zona rentan terhadap berita geopolitik. Dalam konteks ini, data inflasi zona euro dan dinamika fiskal menjadi kunci untuk menilai kemampuan euro dalam menghadapi tekanan energi.

Para analis menekankan bahwa aliran harga energi dan pasokan gas akan menjadi indikator utama pergerakan EUR terhadap dolar. Dolar yang menguat sebagai safe-haven bisa memperkuat bias pelemahan euro ketika volatilitas energi tetap tinggi. Kondisi ini menekankan perlunya pembacaan inflasi eurozone untuk menilai daya beli mata uang tersebut.

Risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter tetap menjadi fokus utama bagi EUR/USD. Pasar menimbang dampak laporan inflasi dan komentar pejabat bank sentral terhadap arah dolar, terutama jelang pertemuan FOMC. Reaksi pasar terhadap data inflasi dan pernyataan pejabat Federal Reserve menjadi kunci arah dalam beberapa minggu mendatang.

Data inflasi zona euro yang diperkirakan menunjukkan kenaikan di atas 3 persen secara umum, meskipun laju inflasi inti sekitar 2,5 persen. Meskipun angka-angka ini bisa menambah tekanan hawkish, volatilitas harga minyak dan gas tetap menjadi penentu utama dinamika pasangan. Hal ini membuat prospek EUR/USD sensitif terhadap perubahan energi dan risiko geopolitik yang membentuk ekspektasi kebijakan.

Dengan semua faktor ini, euro diprediksi tetap berada dalam kisaran sempit kecuali ada sinyal jelas soal eskalasi atau deeskalasi konflik. ECB dan Fed kemungkinan menahan jarak kebijakan sambil menyeimbangkan antara risiko fiskal dan biaya energi. Secara umum, ahli pasar melihat EUR/USD tetap volatil dengan peluang tren jangka menengah jika energi stabil dan ketegangan geopolitik meredam.

banner footer